Kamis, 23 November 2017

Menstimulus Matematika Logis pada Anak | DAY 1

Bismillaah..
Yeaayy, tantangan level 6 sudah di mulai dan kali ini tentang menstimulasi matematika logis pada anak. Matematika ? Pelajaran kesukaan Umma nih. Dan setelah menerima materi tentang tangtangan kali ini Umma baru tahu ternyata matematika pada anak itu bukan sekedar penjumlahan, pengurangan, kali bagi, dll, tapi juga tentang mengenalkan mereka konsep panjang, berat, kecepatan dan tentu saja dengan cara-cara yang sederhana sesuai dengan usia anak. Maasya Allah... Sunggu menuntut ilmu dan mendapatkannya itu sangat menyenangkan yaa..

Alhamdulillah sebelum-sebelumnya Umma dan Ghaza sudah melakukan beberapa kegiatan yang ternyata merupakan cara menstimulus matematika logis sejak dini. Insya Allah melalui tantangan kali ini akan kami lakukan lagi sesering mungkin. Nah hari ini Ghaza dan Umm bermain memasukkan batu-batu gelang ke dalam botol dan mencocokkan sepatu. Permainan ini bertujuan untuk mengenalkan warna pada Ghaza dan melatih kemampuan Ghaza untuk menyelesaikan masalah.
 
Umma masih dalam tahap mengenalkan warna pada Ghaza dan sampai sekarang Ghaza belum bisa mengenalinya hanya menyebutkan nama-nama warnanya. Menurut yang Umma baca di buku Rumah Main Anak, memang butuh waktu untuk mengenalkan warna pada anak karena warna bersifat abstrak tidak seperti hewan dan kendaraan yang bersifat kongkrit. Jadi untuk permainan kali ini, Umma yang bertugas mengklasifikasikan warna dari batu-batu gelang dan Ghaza bertugas memasukkan batu tersebut ke dalam botol sambil Umma sebutkan warnanya dan meminta Ghaza mengikutinya.

Permainan selanjutnya adalah mencocokkan pasangan-pasangan sepatu Ghaza. Jadi Umma meletakkan beberapa pasang sepatu di lantai secara acak dan meminta Ghaza mencari pasangannya sambil Umma membantu untuk menyebutkan warnanya dan meminta Ghaza mengikutinya. Ghaza kadang ikut menyebutkan warnanya, kadang juga tidak. Ghaza lebih tertarik mencocokkan sepatunya dan berlanjut ke memasukkan tali sepatu (bukan tali sih, entah apa namanya haha) ke tempatnya seperti gambar disamping. Ghaza memang sangat suka permainan-permainan sederhana yang dapat melatih motorik halus seperti ini.

Alhamdulillaah..
Umma jadi makin semangat buat belajar dan mencari cara untuk menstimulasi matematika logis pada Ghaza. Semoga bisa terus membersamai Ghaza bermain sambil belajar yah nak sayang..
Terima kasih untuk segala ilmunya IIP, semoga menjadi amal jariyah bagi ^^


Minggu, 19 November 2017

Sayyidul Istighfar


(sumber gambar : https://twitter.com/muhammadalislam/status/223443597649903618)


 
(Allahumma Anta Rabbi, Laa Ilaaha Illa Anta,Khalaqtani wa ana abduKa,
wa ana ‘alaa ‘ahdika wa wa’dika mastatho’tu,
Audzubika min syarri maa shana’tu, Abuu u laka bi ni’matiKa ‘alaiyya
wa abuu u bidzanbi faghfirlii fainnahu laa yaghfiru dzunuuba illa Anta )
 

"Ya Allah! Engkau adalah Rabku, tidak ada Rabb yg berhak disembah kecuali Engkau. Engkaulah yg menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku akan setia pd perjanjianku dg-Mu semampuku. Aku berlindung kpd-Mu dari kejelekan yg kuperbuat. Aku mengakui nikmat-Mu kpdku & aku mengakui dosaku, oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tiada yg mengampuni dosa kecuali Engkau”. (HR. Bukhari no. 6306).
 

"Barangsiapa mengucapkannya di pagi hari dalam keadaan yakin dengannya kemudian dia mati pada hari itu sebelum petang hari, maka dia termasuk penduduk syurga dan siapa yang mengucapkannya di waktu sore hari dalam keadaan dia yakin dengannya, kemudian dia mati
sebelum shubuh maka dia termasuk penduduk syurga.” (HR. Al-Bukhari – Fathul Baari 11/97).


 

Rabu, 15 November 2017

Berprasangka baik kepada anak

Sebagai orang tua baru saya harus banyak-banyak belajar dan terus berlomba dengan tumbuh kembang anak yang pesat. Satu hal yang saya pelajari adalah belajar untuk terus berprasangka baik kepada anak. Saya pernah sangat menyesali perlakuan saya ke Ghaza yang saya anggap lepas kontrol. Waktu itu Ghaza rewel dan tidak mau tidur bahkan saat jam menunjukkan sepertiga malam. Saya yang lelah dengan rutinitas harian ditambah mengantuk berat pun mulai tidak bisa menjaga "kewarasan" sampai akhirnya saya pun marah ke Ghaza. Meskipun tidak dengan teriakan, tapi ekspresi saya jelas ditangkap oleh Ghaza yang akhirnya menangis. Saya membujuknya dengan menawarkan memijatnya dengan minyak gosok. Beberapa lama setelah dipijat, Ghaza pun BAB. Ternyata dia tidak mau tidur karena sakit perut dan susah BAB. Saya sangat merasa bersalah dan sejak itu setiap saya merasakan sakit perut saya memikirkan mungkin seperti itulah yang Ghaza rasakan.

Beberapa hari ini Ghaza malas makan sampai kemarin sama sekali tidak mau makan dan tidur tidak nyenyak kemungkinan karena sakit perut masuk angin disebabkan tidak makan tsb. Saya berusaha untuk berpikir positif dan mencari penyebabnya. Apapun yang Ghaza rasakan, dialah yg paling menderita, bukan saya atau pun suami. Ghaza yang harus menahan lapar, Ghaza yang kesakitan, Ghaza yang tidak nyenyak tidur, Ghaza yang merasakan semuanya dengan tubuh kecilnya yang tidak bisa menjelaskan dimana sakitnya, seperti apa kesusahannya. Ghaza nak T.T

Awalnya saya berpikir mungkin karena giginya mau tumbuh karena memang beberapa hari ini air liur Ghaza selalu keluar. Tetapi saya periksa berulang kali, tidak juga. Sampai kemarin saat Ghaza tertawa saya sempat melihat ternyata ada sariawan di bagian bawah ujung lidahnya. Pantas Ghaza menolak makan T.T Alhamdulillah Ghaza bisa makan lahap hari ini setelah saya buatkan bubur dan lauk yang lembek. Alhamdulillaah..

Semoga saya bisa terus belajar dari pengalaman dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Ghaza nak, maafkan Umma yang masih banyak kurangnya. Terima kasih Ghaza mau bersabar dan menjadi sahabat terbaik Umma. Umma sayang Ghaza karena Allah..

Ngambek ? Aah, sudahlah!

Disalah satu film yang saya nonton, ada adegan dimana sang suami meninggal dan si istri sambil menangis terisak-isak berkata bahwa ia akan menyetujui semua kemauan suami asal tidak meninggalkannya seperti itu. Meskipun bukan pemeran utama, tetapi adegan ini berarti sekali bagi saya. Saya pun berpikir kadang kita tidak sadar seberapa besar cinta yang kita punya sampai kita kehilangan apa yang kita cintai. So, tidak harus menunggu kehilangan dulu baru mendukung dan bersikap baik ke suami kan ?

Maka ketika suami pulang terlambat tanpa mengabari sebelumnya ala-ala lelaki pada umumnya, rasanya ingin ngambek dan pasang wajah cemberut. Tapi saat saya mengingat film tersebut, luluh seketika. Alhamdulillah suami pulang dengan selamat, itu saja sudah cukup kan ? Membesar-besarkan masalah hanya akan membuat penyesalan. Lagi pula mau ngambek sampai kapan klo sudah jam segini ? Sampai besok kan tidak mungkin, bisa-bisa hanya menjauhkan diri dari surga!

Ada satu hadist yang saya baca jauh sebelum menikah, saya baca dari buku Udah Putusin Aja by Ust. Felix. Hadistnya seperti ini :

Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda:

أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِنِسَائِكُمْ فِي الْجَنَّةِ؟قُلْنَا بَلَى يَا رَسُوْلَ الله كُلُّ وَدُوْدٍ وَلُوْدٍ، إِذَا غَضِبَتْ أَوْ أُسِيْءَ إِلَيْهَا أَوْ غَضِبَ زَوْجُهَا، قَالَتْ: هَذِهِ يَدِيْ فِي يَدِكَ، لاَ أَكْتَحِلُ بِغَمْضٍ حَتَّى تَرْضَى

“Maukah kalian aku beritahu tentang istri-istri kalian di dalam surga?” Mereka menjawab: “Tentu saja wahai Rasulullaah!” Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Wanita yang penyayang lagi subur. Apabila ia marah, atau diperlakukan buruk atau suaminya marah kepadanya, ia berkata: “Ini tanganku di atas tanganmu, mataku tidak akan bisa terpejam hingga engkau ridha.” (HR. Ath Thabarani dalam Al Ausath dan Ash Shaghir. Lihat Ash Shahihah hadits no. 3380)

Awal membaca ini saya merasa tidak adil, astaghfirullaah. Masa iya meski istri diperlakukan buruk oleh suami tetap si istri yang harus datang meminta maaf ? Dan semua itupun terbantahkan ketika saya sadar sungguh tidak pantas meragukan keadilan Allah Ázza wa jalla yang Maha Adil begitupun dengan perkataan Rosulullah SAW. Astaghfirullah wa atubu ilaih.. Maka pantaslah seorang istri dapat masuk surga dari pintu mana saja hanya dengan menjalankan sholat wajib, berpuasa Ramadhan, menjauhi zina dan taat pada suaminya. Maasya Allah..

Menulis ini bagian dari muhasabah dan pengingat bagi diri sendiri bahwa bersabar dan mengalah jauh lebih karena yang paling pantas mendapatkan akhlak terbaik kita adalah keluarga kita sendiri.

Selasa, 14 November 2017

Aliran Rasa | MENSTIMULASI ANAK SUKA MEMBACA



Sungguh benar bahwa buku adalah jendela dunia. Saya termasuk ibu rumah tangga yang tak bisa kemana-mana tanpa suami hehe Meskipun kadang keluarnya bersama saudara atau sahabat, tetapi sebagian besar bersama suami. Maka waktu yang saya habiskan lebih banyak di rumah dan kadang berakhir pekan di luar bersama keluarga. Awalnya saya sempat khawatir bagaimana cara mengenalkan banyak hal pada ghaza sementara aktivitas kami lebih banyak di dalam rumah. tapi dengan buku, alhamdulillah saya bisa mengenalkan banyak hal pada Ghaza.

Ghaza pun sangat senang bila sesuatu yang dilihatnya di buku bisa dilihatnya secara langsung. seperti saat kami ke Lapangan Walikota tempo hari dan terdengar suara pesawat maka saya segera mengenalkannya pada Ghaza dan saking senangnya  Ghaza terus mengulang-ngulang itu sampai di rumah. Begitupun dengan hewan-hewan yang kami temui di sepanjang perjalanan menuju suatu tempat. ghaza benar-benar senang bisa melihat langsung sesuatu yang sebelumnya dilihatnya hanya dari buku.

Saya sangat bersyukur dengan tantangan kali ini, bukan karena berhasil menyelasikan tantangan full dan mendapatkan badge ini, tetapi karena banyaknya manfaat yang kami rasakan bersama. Ghaza semakin dekat dengan buku-bukunya, saat menangis dapat dialihkan dengan buku, mencari bukunya bahkan saat kami di luar rumah. Saya pun mulai merasakan kembali nikmatnya membaca dan perlahan-lahan menyiapkan waktu untuk membaca bahkan sekedar hal kecil yang bermanfaat. Untuk suami, ada peningkatan setelah hari ini tiba-tiba mengajak kami ke perpustakaan daerah hihi maasya Allah..

Saya berharap, meski dengan langkah tertatih, saya dan suami dapat saling mendukung untuk terus menstimulasi Ghaza suka membaca, membimbing ghaza untuk mencintai ilmu hingga kelak dapat mengikat ilmu dengan cinta dan diberkahi Allah ázza wa jalla..

Rumput tetangga selalu lebih hijau..



Rumput tetangga selalu lebih hijau..

Pernah mendengar kalimat itu ? Perasaan di mana melihat apa yang dimiliki orang lain lebih baik baik daripada punya sendiri. Saya sekilas merasakannya malam ini. Saat mencoba membuka salah satu media sosial yang jarang dibuka dan menemukan postingan teman-teman lama. Aaaa, rindunya..

Saya merindukan orang-orangnya, terlebih kegiatan-kegiatannya. Saya memang lagi berusaha Move On, Move On dari seorang wanita yang punya segudang aktivitas di luar rumah ke seorang ibu dan istri yang profesional sebagai ibu rumah tangga.

Saya masih ingin disibukkan dengan kegiatan-kegiatan bermanfaat, dengan segala aktivitas dakwah yang menguras keringat dan air mata, bertemu dengan orang-orang baru yang melembutkan hati, bersama dengan teman-teman perjuangan yang menguatkan, mengasah kemampuan, menantang diri sendiri, sedikit melawan arus, dan menikmati setiap sepi.

Meskipun ingin, saya sadar bahwa bukan saatnya saya menikmati hal-hal seperti itu lagi. Tapi saya bisa mengubah apa yang ada saat ini untuk menuju ke arah yang sama. Meskipun berbeda jalan, bukankah masih satu tujuan ?
Saya masih bisa melakukan kegiatan-kegiatan bermanfaat bersama suami dan anak. Meskipun saat ini masih dalam tahap belajar tapi saya bisa berbagi lewat Institut Ibu Profesional (IIP), Tamyiz dan HebAT. Sungguh ada banyak orang-orang baru sekaligus guru yang saya temukan di situ. Saya pun masih dalam tahap berjuang bersama mereka dan saling menguatkan. Banyak hal baru dan menjadi peluang bagi saya untuk terus mengasah kemampuan. Karenanya kadang tanpa berpikir panjang saya mengangkat tangan mengambil kesempatan yang diberikan untuk menantang diri sendiri. Dan semua itu saya dapatkan hanya dengan tetap di rumah, sebagai istri sekaligu ibu yang tidak pernah sempat merasa sepi.

Alhamdulillah ála kulli haal.. Wajar bila saya masih sedikit memendam rindu karena bertahun-tahun menjalani hari-hari itu. Saya masih beradaptasi dan terus berproses menjadi Profesional untuk amanah saat ini.

Bersyukur dipertemukan dengan ketiga komunitas tersebut yang membuka peluang belajar lewat online. Sehingga ibu-ibu yang lagi belajar move on seperti saya bisa betah di rumah. Rumput tetangga memang selalu lebih hijau, hanya saja kita kadang tidak sadar bahwa itu rumput plastik, rumput segar di pekarangan sendiri jauh lebih menyenangkan, kurang lebih begitu kata Ustad Salim hehe

Ini pilihanku, ini jalanku. Saya menghargai diriku yang sedang berproses berusaha menjadi baik setiap harinya. Jalan kita boleh berbeda, tapi tetap kebaikan akhirat tujuan kita. Semangat berjuang di ranah masing-masing Sahabat!



Palu, 13 November 2017
01:17am

Menstimulus Matematika Logis pada Anak | DAY 1

Bismillaah..
Yeaayy, tantangan level 6 sudah di mulai dan kali ini tentang menstimulasi matematika logis pada anak. Matematika ? Pelajaran kesukaan Umma nih. Dan setelah menerima materi tentang tangtangan kali ini Umma baru tahu ternyata matematika pada anak itu bukan sekedar penjumlahan, pengurangan, kali bagi, dll, tapi juga tentang mengenalkan mereka konsep panjang, berat, kecepatan dan tentu saja dengan cara-cara yang sederhana sesuai dengan usia anak. Maasya Allah... Sunggu menuntut ilmu dan mendapatkannya itu sangat menyenangkan yaa..

Alhamdulillah sebelum-sebelumnya Umma dan Ghaza sudah melakukan beberapa kegiatan yang ternyata merupakan cara menstimulus matematika logis sejak dini. Insya Allah melalui tantangan kali ini akan kami lakukan lagi sesering mungkin. Nah hari ini Ghaza dan Umm bermain memasukkan batu-batu gelang ke dalam botol dan mencocokkan sepatu. Permainan ini bertujuan untuk mengenalkan warna pada Ghaza dan melatih kemampuan Ghaza untuk menyelesaikan masalah.
 
Umma masih dalam tahap mengenalkan warna pada Ghaza dan sampai sekarang Ghaza belum bisa mengenalinya hanya menyebutkan nama-nama warnanya. Menurut yang Umma baca di buku Rumah Main Anak, memang butuh waktu untuk mengenalkan warna pada anak karena warna bersifat abstrak tidak seperti hewan dan kendaraan yang bersifat kongkrit. Jadi untuk permainan kali ini, Umma yang bertugas mengklasifikasikan warna dari batu-batu gelang dan Ghaza bertugas memasukkan batu tersebut ke dalam botol sambil Umma sebutkan warnanya dan meminta Ghaza mengikutinya.

Permainan selanjutnya adalah mencocokkan pasangan-pasangan sepatu Ghaza. Jadi Umma meletakkan beberapa pasang sepatu di lantai secara acak dan meminta Ghaza mencari pasangannya sambil Umma membantu untuk menyebutkan warnanya dan meminta Ghaza mengikutinya. Ghaza kadang ikut menyebutkan warnanya, kadang juga tidak. Ghaza lebih tertarik mencocokkan sepatunya dan berlanjut ke memasukkan tali sepatu (bukan tali sih, entah apa namanya haha) ke tempatnya seperti gambar disamping. Ghaza memang sangat suka permainan-permainan sederhana yang dapat melatih motorik halus seperti ini.

Alhamdulillaah..
Umma jadi makin semangat buat belajar dan mencari cara untuk menstimulasi matematika logis pada Ghaza. Semoga bisa terus membersamai Ghaza bermain sambil belajar yah nak sayang..
Terima kasih untuk segala ilmunya IIP, semoga menjadi amal jariyah bagi ^^


Sayyidul Istighfar


(sumber gambar : https://twitter.com/muhammadalislam/status/223443597649903618)


 
(Allahumma Anta Rabbi, Laa Ilaaha Illa Anta,Khalaqtani wa ana abduKa,
wa ana ‘alaa ‘ahdika wa wa’dika mastatho’tu,
Audzubika min syarri maa shana’tu, Abuu u laka bi ni’matiKa ‘alaiyya
wa abuu u bidzanbi faghfirlii fainnahu laa yaghfiru dzunuuba illa Anta )
 

"Ya Allah! Engkau adalah Rabku, tidak ada Rabb yg berhak disembah kecuali Engkau. Engkaulah yg menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku akan setia pd perjanjianku dg-Mu semampuku. Aku berlindung kpd-Mu dari kejelekan yg kuperbuat. Aku mengakui nikmat-Mu kpdku & aku mengakui dosaku, oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tiada yg mengampuni dosa kecuali Engkau”. (HR. Bukhari no. 6306).
 

"Barangsiapa mengucapkannya di pagi hari dalam keadaan yakin dengannya kemudian dia mati pada hari itu sebelum petang hari, maka dia termasuk penduduk syurga dan siapa yang mengucapkannya di waktu sore hari dalam keadaan dia yakin dengannya, kemudian dia mati
sebelum shubuh maka dia termasuk penduduk syurga.” (HR. Al-Bukhari – Fathul Baari 11/97).


 

Berprasangka baik kepada anak

Sebagai orang tua baru saya harus banyak-banyak belajar dan terus berlomba dengan tumbuh kembang anak yang pesat. Satu hal yang saya pelajari adalah belajar untuk terus berprasangka baik kepada anak. Saya pernah sangat menyesali perlakuan saya ke Ghaza yang saya anggap lepas kontrol. Waktu itu Ghaza rewel dan tidak mau tidur bahkan saat jam menunjukkan sepertiga malam. Saya yang lelah dengan rutinitas harian ditambah mengantuk berat pun mulai tidak bisa menjaga "kewarasan" sampai akhirnya saya pun marah ke Ghaza. Meskipun tidak dengan teriakan, tapi ekspresi saya jelas ditangkap oleh Ghaza yang akhirnya menangis. Saya membujuknya dengan menawarkan memijatnya dengan minyak gosok. Beberapa lama setelah dipijat, Ghaza pun BAB. Ternyata dia tidak mau tidur karena sakit perut dan susah BAB. Saya sangat merasa bersalah dan sejak itu setiap saya merasakan sakit perut saya memikirkan mungkin seperti itulah yang Ghaza rasakan.

Beberapa hari ini Ghaza malas makan sampai kemarin sama sekali tidak mau makan dan tidur tidak nyenyak kemungkinan karena sakit perut masuk angin disebabkan tidak makan tsb. Saya berusaha untuk berpikir positif dan mencari penyebabnya. Apapun yang Ghaza rasakan, dialah yg paling menderita, bukan saya atau pun suami. Ghaza yang harus menahan lapar, Ghaza yang kesakitan, Ghaza yang tidak nyenyak tidur, Ghaza yang merasakan semuanya dengan tubuh kecilnya yang tidak bisa menjelaskan dimana sakitnya, seperti apa kesusahannya. Ghaza nak T.T

Awalnya saya berpikir mungkin karena giginya mau tumbuh karena memang beberapa hari ini air liur Ghaza selalu keluar. Tetapi saya periksa berulang kali, tidak juga. Sampai kemarin saat Ghaza tertawa saya sempat melihat ternyata ada sariawan di bagian bawah ujung lidahnya. Pantas Ghaza menolak makan T.T Alhamdulillah Ghaza bisa makan lahap hari ini setelah saya buatkan bubur dan lauk yang lembek. Alhamdulillaah..

Semoga saya bisa terus belajar dari pengalaman dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Ghaza nak, maafkan Umma yang masih banyak kurangnya. Terima kasih Ghaza mau bersabar dan menjadi sahabat terbaik Umma. Umma sayang Ghaza karena Allah..

Ngambek ? Aah, sudahlah!

Disalah satu film yang saya nonton, ada adegan dimana sang suami meninggal dan si istri sambil menangis terisak-isak berkata bahwa ia akan menyetujui semua kemauan suami asal tidak meninggalkannya seperti itu. Meskipun bukan pemeran utama, tetapi adegan ini berarti sekali bagi saya. Saya pun berpikir kadang kita tidak sadar seberapa besar cinta yang kita punya sampai kita kehilangan apa yang kita cintai. So, tidak harus menunggu kehilangan dulu baru mendukung dan bersikap baik ke suami kan ?

Maka ketika suami pulang terlambat tanpa mengabari sebelumnya ala-ala lelaki pada umumnya, rasanya ingin ngambek dan pasang wajah cemberut. Tapi saat saya mengingat film tersebut, luluh seketika. Alhamdulillah suami pulang dengan selamat, itu saja sudah cukup kan ? Membesar-besarkan masalah hanya akan membuat penyesalan. Lagi pula mau ngambek sampai kapan klo sudah jam segini ? Sampai besok kan tidak mungkin, bisa-bisa hanya menjauhkan diri dari surga!

Ada satu hadist yang saya baca jauh sebelum menikah, saya baca dari buku Udah Putusin Aja by Ust. Felix. Hadistnya seperti ini :

Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda:

أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِنِسَائِكُمْ فِي الْجَنَّةِ؟قُلْنَا بَلَى يَا رَسُوْلَ الله كُلُّ وَدُوْدٍ وَلُوْدٍ، إِذَا غَضِبَتْ أَوْ أُسِيْءَ إِلَيْهَا أَوْ غَضِبَ زَوْجُهَا، قَالَتْ: هَذِهِ يَدِيْ فِي يَدِكَ، لاَ أَكْتَحِلُ بِغَمْضٍ حَتَّى تَرْضَى

“Maukah kalian aku beritahu tentang istri-istri kalian di dalam surga?” Mereka menjawab: “Tentu saja wahai Rasulullaah!” Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Wanita yang penyayang lagi subur. Apabila ia marah, atau diperlakukan buruk atau suaminya marah kepadanya, ia berkata: “Ini tanganku di atas tanganmu, mataku tidak akan bisa terpejam hingga engkau ridha.” (HR. Ath Thabarani dalam Al Ausath dan Ash Shaghir. Lihat Ash Shahihah hadits no. 3380)

Awal membaca ini saya merasa tidak adil, astaghfirullaah. Masa iya meski istri diperlakukan buruk oleh suami tetap si istri yang harus datang meminta maaf ? Dan semua itupun terbantahkan ketika saya sadar sungguh tidak pantas meragukan keadilan Allah Ázza wa jalla yang Maha Adil begitupun dengan perkataan Rosulullah SAW. Astaghfirullah wa atubu ilaih.. Maka pantaslah seorang istri dapat masuk surga dari pintu mana saja hanya dengan menjalankan sholat wajib, berpuasa Ramadhan, menjauhi zina dan taat pada suaminya. Maasya Allah..

Menulis ini bagian dari muhasabah dan pengingat bagi diri sendiri bahwa bersabar dan mengalah jauh lebih karena yang paling pantas mendapatkan akhlak terbaik kita adalah keluarga kita sendiri.

Aliran Rasa | MENSTIMULASI ANAK SUKA MEMBACA



Sungguh benar bahwa buku adalah jendela dunia. Saya termasuk ibu rumah tangga yang tak bisa kemana-mana tanpa suami hehe Meskipun kadang keluarnya bersama saudara atau sahabat, tetapi sebagian besar bersama suami. Maka waktu yang saya habiskan lebih banyak di rumah dan kadang berakhir pekan di luar bersama keluarga. Awalnya saya sempat khawatir bagaimana cara mengenalkan banyak hal pada ghaza sementara aktivitas kami lebih banyak di dalam rumah. tapi dengan buku, alhamdulillah saya bisa mengenalkan banyak hal pada Ghaza.

Ghaza pun sangat senang bila sesuatu yang dilihatnya di buku bisa dilihatnya secara langsung. seperti saat kami ke Lapangan Walikota tempo hari dan terdengar suara pesawat maka saya segera mengenalkannya pada Ghaza dan saking senangnya  Ghaza terus mengulang-ngulang itu sampai di rumah. Begitupun dengan hewan-hewan yang kami temui di sepanjang perjalanan menuju suatu tempat. ghaza benar-benar senang bisa melihat langsung sesuatu yang sebelumnya dilihatnya hanya dari buku.

Saya sangat bersyukur dengan tantangan kali ini, bukan karena berhasil menyelasikan tantangan full dan mendapatkan badge ini, tetapi karena banyaknya manfaat yang kami rasakan bersama. Ghaza semakin dekat dengan buku-bukunya, saat menangis dapat dialihkan dengan buku, mencari bukunya bahkan saat kami di luar rumah. Saya pun mulai merasakan kembali nikmatnya membaca dan perlahan-lahan menyiapkan waktu untuk membaca bahkan sekedar hal kecil yang bermanfaat. Untuk suami, ada peningkatan setelah hari ini tiba-tiba mengajak kami ke perpustakaan daerah hihi maasya Allah..

Saya berharap, meski dengan langkah tertatih, saya dan suami dapat saling mendukung untuk terus menstimulasi Ghaza suka membaca, membimbing ghaza untuk mencintai ilmu hingga kelak dapat mengikat ilmu dengan cinta dan diberkahi Allah ázza wa jalla..

Rumput tetangga selalu lebih hijau..



Rumput tetangga selalu lebih hijau..

Pernah mendengar kalimat itu ? Perasaan di mana melihat apa yang dimiliki orang lain lebih baik baik daripada punya sendiri. Saya sekilas merasakannya malam ini. Saat mencoba membuka salah satu media sosial yang jarang dibuka dan menemukan postingan teman-teman lama. Aaaa, rindunya..

Saya merindukan orang-orangnya, terlebih kegiatan-kegiatannya. Saya memang lagi berusaha Move On, Move On dari seorang wanita yang punya segudang aktivitas di luar rumah ke seorang ibu dan istri yang profesional sebagai ibu rumah tangga.

Saya masih ingin disibukkan dengan kegiatan-kegiatan bermanfaat, dengan segala aktivitas dakwah yang menguras keringat dan air mata, bertemu dengan orang-orang baru yang melembutkan hati, bersama dengan teman-teman perjuangan yang menguatkan, mengasah kemampuan, menantang diri sendiri, sedikit melawan arus, dan menikmati setiap sepi.

Meskipun ingin, saya sadar bahwa bukan saatnya saya menikmati hal-hal seperti itu lagi. Tapi saya bisa mengubah apa yang ada saat ini untuk menuju ke arah yang sama. Meskipun berbeda jalan, bukankah masih satu tujuan ?
Saya masih bisa melakukan kegiatan-kegiatan bermanfaat bersama suami dan anak. Meskipun saat ini masih dalam tahap belajar tapi saya bisa berbagi lewat Institut Ibu Profesional (IIP), Tamyiz dan HebAT. Sungguh ada banyak orang-orang baru sekaligus guru yang saya temukan di situ. Saya pun masih dalam tahap berjuang bersama mereka dan saling menguatkan. Banyak hal baru dan menjadi peluang bagi saya untuk terus mengasah kemampuan. Karenanya kadang tanpa berpikir panjang saya mengangkat tangan mengambil kesempatan yang diberikan untuk menantang diri sendiri. Dan semua itu saya dapatkan hanya dengan tetap di rumah, sebagai istri sekaligu ibu yang tidak pernah sempat merasa sepi.

Alhamdulillah ála kulli haal.. Wajar bila saya masih sedikit memendam rindu karena bertahun-tahun menjalani hari-hari itu. Saya masih beradaptasi dan terus berproses menjadi Profesional untuk amanah saat ini.

Bersyukur dipertemukan dengan ketiga komunitas tersebut yang membuka peluang belajar lewat online. Sehingga ibu-ibu yang lagi belajar move on seperti saya bisa betah di rumah. Rumput tetangga memang selalu lebih hijau, hanya saja kita kadang tidak sadar bahwa itu rumput plastik, rumput segar di pekarangan sendiri jauh lebih menyenangkan, kurang lebih begitu kata Ustad Salim hehe

Ini pilihanku, ini jalanku. Saya menghargai diriku yang sedang berproses berusaha menjadi baik setiap harinya. Jalan kita boleh berbeda, tapi tetap kebaikan akhirat tujuan kita. Semangat berjuang di ranah masing-masing Sahabat!



Palu, 13 November 2017
01:17am