Jumat, 25 Mei 2012

Kisah 'Kalajengking' dan 'Ular' dalam BUMI CINTA

Diposting oleh Rati Rahmawati di 00.04 0 komentar Link ke posting ini

Ibnu Qudamah dalam salah satu karyanya berjudul At Tawwabin, menuturkan sebuah kisah menarik tentang kasih sayang dan pertolongan Tuhan. Ibnu Qudamah menyitir kesaksian orang yang mengalami kejadian nyata yang menakjubkan. Orang itu bernama Yusuf Bin husain. Dia menuturkan kisahnya :

“Pernah suatu ketika aku bersama Dzun Nun Al Mishri berada di tepian sebuah anak sungai. Aku melihat seekor kalajengking besar di tempat itu. Tiba-tiba ada seekor katak muncul dipermukaan, dan kalajengking itu kemudian naik di atas punggungnya. Kemudian sang katak itu berenang menyebrangi sungai.

“Dzun Nun Al Mishri berkata, ‘Ada yang aneh dengan kalajengking itu, mari kita ikuti dia!’

“Maka kami lantas menyebrang mengikuti kalajengking yang digendong katak itu. Kami terperanjat ketika menjumpai seseorang tertidur di tepian sungai yang nampaknya habis mabuk. Dan di sampingnya ada seekor ular yang mulai menjalar dari pusar kemudian ke dadanya, kiranya ular tersebut hendak menggigit telinganya.

“Kami lalu menyaksikan kejadian yang luar biasa. Kalajengking itu tiba-tiba melompat secepat kilat ke tubuh ular itu dan menyengat ular itu sejadi-jadinya, hingga sang ular menggeliat-geliat dan terkoyak-koyak tubuhnya.

“Dzun Nun lalu membangunkan anak muda yang habis mabuk itu. Sesaat kemudian anak muda itu terjaga. Dzun Nun berkata, ‘ Hai anak muda, lihatlah betapa besar kasih sayang Allah yang telah menyelamatkanmu. Lihatlah kalajengking yang diutus-NYA untuk membinasakan ular yang hendak membunuhmu!’

“Lalu Dzun Nun melanjutkan nasihatnya, ‘Hai orang yang terlena, padahal Tuhan menjaga dari marabahaya yang merayap di kala gulita. Sungguh aneh, mata manusia mampu terlelap meninggalkan Tuhan Yang Kuasa, yang melimpahinya berbagai nikmat.’

“Setelah itu pemabuk itu berkata, ‘Duhai Tuhanku, betapa agung kasih sayang-Mu sekalipun terhadap diriku yang durhaka kepada-Mu. Jika demikian, bagaimana dengan kasih sayang-Mu kepada orang yang selalu taat kepada-Mu?’

“Pemuda pemabuk itu lallu meniti jalan menuju Allah. Ia sering kali menangis setiap kali teringat masa lalunya yang sia-sia. I a terus meniti jalan Allahyang lurus, jalan untuk orang-orang yang diberi nikmat sejati oleh Allah.”

Penjelasan Muhammad Ayyas (Tokoh Utama Novel BUMI CINTA) :

“Kisah kalajengking yang diutus oleh Allah sesungguhnya bisa terjadi pada siapa saja dan kapan saja. Termasuk pada diri kita. Mungkin kita tidak menyadari, Allah telah mengutus ‘kalajengking’ untuk menyelamatkan kita dari bahaya ‘ular’ yang hendak membinasakan kita.

“Kalajengking penyelamat itu bisa berbentuk hal yang bermacam-macam, dan ular yang hendak membinasakan kita juga bentuknya bermacam-macam. Bahaya itu bisa jadi misalnya berupa hutang yang menumpuk, yang sangat mengancam, yang siap membinasakan kita. Terkadang orang yang memiliki hutang menumpuk malah terlena dan sama sekali tidak sadar kalau ia sedang dililit oleh ular yang sangat besar. Persis seperti pemuda mabuk tadi. Atau ia sadar dililit ular besar dan pasrah sepenuhnya siap untuk binasa, sebab sudah tidak bisa berbuat apa-apa.

“Dalam kondisi kritis, berulang kali Allah menjaga hamba-Nya. Orang yang hutangnya menumpuk itu diberi jalan keluar oleh Allah. Berbagai macam caranya Allah mengirimkan ‘kalajengking’ penyelamat itu. Bisa jadi ada teman lama yang mendengar beritanya dan berkenan membantu menyelesaikan hutang-hutangnya. Bisa jadi Allah membukakan pintu bisnis yang baru. Yang dengan itu ia bangkit lagi, bisa melunasi hutangnya dan kembali hidup sentosa. Ada bermacam-macam sebab, tetapi pada intinya Allahlah yang mengatur semuanya.

“Cobalah sejenak kita inga-ingat sejarah perjalanan hidup kita. Berapa kali sudah Allah mengirimkan ‘kalajengking’ yang menyelamatkan hidup kita ? Berapa kali sudah Allah menolong kita dalam kesusahan dan kesempitan yang mendera ? kalau kita jujur, pastilah berkali-kali. Bahkan kalau kita jujur, setiap saat Allah melindungi kita dalam perlindungan yang tidak kita sadari.

“Kita tidak sadar bahwa setiap detik Allah membersihkan darah kita dari pelbagai jenis racun yang mematikan. Allahlah yang mengatur pembersihan darah itu dengan membuatkan pabrik yang memproduksi zat kimia alami untuk membersihkan darah. Pabri itu bekerja dua puluh empat jam tanpa henti. Dan kita samasekali tidka menyadarinya, atau kita malah ada yang tidak mengetahuinya. Tapi dunia medis telah menjelaskan semua.

“Di dalam tubuh kita, menurut keterangan ilmu medis, Allah telah membuat satu pabrik ajaib yang namanya hati. Hati bisa disebut organ terbesar dalam tubuh manusia dengan berat sekitar 1,5 kg. Fungsinya sangat banyak, bahkan mencapai lebih dari 500 fungsi yang bertalian erat dengan fungsi organ tubuh lainnya. Dengan fungsi yang begitu banyak dan rumit, hati ibarat pabrik kimia serba guna dan paling canggih yang diciptakan oleh Allah, dengan jumlah 300 miliar sel yang tidak bisa ditiru oleh teknologi manusia secanggih apa pun.

“Salah satu fungsi hati adalah menyaring dan mengolah darah. Dalam keadaan normal organ hati dilintasi sedikitnya 1400 cc darah setiap menitnya, atau hampir seperempat darah yang ada dalam tubuh melintasi hati setiap menit. Ini adalah cara tubuh untuk membersihkan darah. Hati menyaring darah yang melewatinya, lalu membersihkannya dari unsur-unsur yang mengotori darah. Jika hati menyaring 1,4 liter darah setia menitnya, berarti dalam waktu satu tahun hati telah menyaring lebih dari 525.000 liter darah.

“Tanpa hati, manusia tidak akan bisa bertahan hidup, bahkan akan mati terbunuh oleh pelbagai racun yang masuk ke dalam tubuh, termasuk obat-obatan kimia sintesis, seperti antibiotik yang diresepkan oleh dokter di mana-mana.

“Dan Allahlah yang menjaga kehidupan seseorang dengan menciptakan hati dan menjaganya terus bekerja. Allah terus menjaga kita siang malam, hanya saja kita yang sering lalai dan sama sekali tidak menyadarinya.

“Pertolongan dan kasih sayang Allah  di dunia ini tidak hanya untuk orang-orang yang taat saja. Orang yang bermaksiat sekalipun masih mendapat cipratan kasih sayang Allah. Contohnya adalah pemuda mabuk di atas. Dia tetap diselamatkan oleh Allah. Semestinya kasih sayang Allah yang sedemikian agungnya membuat siapapun insaf dan terjaga. Yang taat kepada Allah semakin taat. Karena ketaatan kepada Allah sendiri itu adalah bentuk kasih sayang Allah. Dan yang masih juga belum taat, masih suka bermasiat, sebaiknya segera insaf, bahwa ia masih hidup dan bisa bernafas di dunia ini karena dilindungi oleh Allah.”

“Hai orang-orang yang terlena, padahal Tuhan menjaga dari marabahaya yang merayap di kala gulita. Sungguh aneh, mata manusia mampu terlelap meninggalkan Tuhan Yang Kuasa, yang melimpahinya berbagai nikmat.” (Dzun Nun)

Sumber : Novel BUMI CINTA by. Ust Habiburahman El Shirazy



Kamis, 17 Mei 2012

Sesalku :'(

Diposting oleh Rati Rahmawati di 11.10 0 komentar Link ke posting ini
5 April 2012
00:07am

Akhir-akhir ini saya agak sensitif dengan kata “kematian”. Saya mulai kembali tersadar akan kematian sejak Ayah dari dewi (junior sy di kampus) meninggal beberapa hari yang lalu. Saat takziah malam ketiga di rumah duka, dewi menceritakan bagaimana Ayahnya meninggal. Beliau meninggal dengan baik dan mempersiapkan diri seolah tahu akan segera meninggalkan dunia. Sebelum meninggal, beliau berusaha tidak menyusahkan keluarga sedikitpun dan menyelesaikan amanah-amanahnya baik dikantor maupun sebagai kepala keluarga. Saat dewi cerita, saya kembali teringat kematian kakek beberapa bulan yang lalu. Kakek meninggal karena sakit setelah dirawat tidak sampai sehari di Rumah Sakit. Saya sendiri yang menyaksikan ketika kakek menghembuskan nafas terakhirnya. Tapi sayangnya saya tidak berbuat banyak saat kakek sakit.

Waktu itu kakek sakit, sakitnya kakek seperti anak kecil yang lagi ngambek. Tidak mau makan, tidak mau bicara, tidak mau minum obat, bahkan bergerak atau bergeser tempat dudukpun enggan. Karena itu keluarga yang lain menduga kakek hanya sedang minta diperhatikan anak-anaknya. Dengan sikap kakek seperti itu, saya dan  gita (sepupu yang juga ikut menjaga kakek) pun ikut percaya. Dan ternyata, kakek memang sakit dan meninggal karena sakitnya itu. Saya menyesal, menyesal karena tidak berbuat lebih baik lagi bahkan berprasangka yang sama seperti keluarga yang lain ketika itu. Saya menyesal..

Keesokan harinya setelah saya mengenang kembali kakek di malam ketiga takziah Ayah dewi, saat membuka facebook ternyata hari itu adalah hari ulang tahun teman saya. Namanya Irbar, si jombe. Saya mengenalnya saat mengikuti bimbingan belajar STAN di Makassar. Anaknya rame, ramah, dan agak rakus. Karena itu saya selalu memanggilnya dengan sebutan jombe.

Saya pernah bertemu dengannya di salah satu bank di Palu, lengkap dengan seragam polisinya. Saya senang karena ternyata dia masih mengenal saya setelah beberapa tahun sejak bimbingan belajar di Makassar. Ternyata setelah bimbingan itu dia beralih menjadi seorang polisi, dan dipindah tugaskan di Palu. Pernah beberapa kali dia menghubungi saya, meminta tolong untuk dicarikan teman karena dia belum punya banyak teman di Palu. Bukannya tidak mau, saya hanya agak bingung harus cari di mana, teman seperti apa yang dia mau dan teman seperti apa yang saya punya. Dan sampai hari di mana saya tahu bahwa dia telah meninggal, saya belum menemukan teman buat dia.

Saya benar-benar SHOCK !!! Ternyata, dia adalah polisi korban tembak yang meninggal sewaktu melakukan tugas jaga di salah satu bank di Palu. Saya tidak menyangka. Saya tahu kejadian itu, tapi saya tidak tahu kalau ternyata irbarlah polisi yang menjadi korban. Karena saya berpikir dia bertugas di Bank yang berbeda saat pertama kali saya bertemu setelah dari Makassar. Dan lagi-lagi saya menyesal, karena tidak bisa memenuhi permintaannya sampai kepergiannya.

Apa yang saya lakukan selama ini ??? Saya tidak bisa berbuat baik pada orang-orang yang meninggalkan saya. Padahal jika saya bandingkan dengan beberapa kepergian orang disekitarku, sebelum mereka pergi, mereka bahkan menyelesaikan amanah mereka di dunia. Seperti ayah dewi, dan juga kisah tentang kepergian suami mbak Sofi yang di ceritakan kak Ugi. Bagaimana suami mbak Sofi mengajarkan mbak mengendarai motor sebelum dia benar-benar pergi, karena selama ini mbak selalu bersama suaminya kemanapun karena belum bisa mengendarai motor.

Saya jadi berpikir, bagaimana dengan saya ?? Apa saya bisa menyelesaikan amanah-amanahku di dunia sebelum pergi ? Apakah orang-orang disekitarku akan memenuhi permintaanku sebelum saya pergi ?? Atau mungkin sebaliknya, apakah saya bisa memenuhi permintaan orang disekitarku sebelum mereka pergi ??

Rabbi, hamba akan benar-benar berusaha kali ini. Maafkan hamba ya Rabb. Dan tolong biarkan penyesalan ini melekat dalam ingatan, agar tidak akan ada sesal yang sama dikemudian hari.

kakek, Irbar.. Maafkan saya.. Saya tahu, setiap isak tangis yang tercipta tidak akan dapat menghapus salah dan sesalku. Maafkan saya. Berharap tempat terindah untuk kalian di sisi-NYA..

Sekali lagi saya benar-benar belajar, dan pelajaran kali ini adalah Ketika kau berniat baik, maka LAKUKANlah !!! Dan penuhi permintaan orang disekitarmu selama itu baik. Sebelum kau menyesal karena tidak sempat memenuhi permintaannya atau mungkin mereka yang tak sempat menerimanya.


Irbar

Senin, 07 Mei 2012

Tangisku

Diposting oleh Rati Rahmawati di 22.43 0 komentar Link ke posting ini


Terisak dalam ketidak berdayaan menentang takdir.
Tapi apakah ini benar takdir ??
Hanya mendengar pun serasa hati tak sanggup.
Rabbi, izinkan hamba mengubah takdir ini dengan usaha, bkn dengan polesan harta seperti mereka.

28/11/11
11.04

Jumat, 04 Mei 2012

Ukhuwah dalam Rabitha

Diposting oleh Rati Rahmawati di 23.01 0 komentar

20/4/2012
1;17am

Ditemani lagu-lagu Maher Zain mencari bahan lewat mbah google untuk kultum di liqo sabtu besok, sambil melihat foto-foto bersama para saudara yang baru diupdate kemarin.
Tak puas dengan mbah google, saya lanjutkan dengan menengok koleksi-koleksi buku yang mungkin saja bisa menambah bahan buat kultum. Dan tanpa sengaja melihat beberapa buku  yang menyadarkanku bahwa saudara-saudara seperjuanganku kemarin tidak lagi berada di tempat yang sama denganku.

Akhirnya, saya kembali merindukan masa-masa itu.
Ingin rasanya berproses seperti kemarin, ingin rasanya kembali merasakan
perjuangan kemarin.
Namun sedih bila melihat bahwa satu persatu dari kami mulai beranjak pergi, jauh bahkan ada pula yang jatuh.
Perlahan-lahan kami menjauh satu sama lain.

Bagaimana harus menghadapi ini ?
Bagaimana agar bisa melewati ujian ini dengan baik ?
Mungkin saya tahu jawabannya.
Tapi entah kenapa tak ada dorongan yang cukup untuk komitmen melaksanakannya.
Semoga ini bisa menjadi batu loncatan buatku.

Mulai dari diri sendiri.
Untuk mengikat ukhuwah dengan erat meski berjarak.
Untuk menyelamatkan diri dan saudara yang hampir terjatuh dan bergeser dari jalan ini.
Untuk memperkecil jarak dengan mereka, kami, satu sama lain.
Yaaah, saya harus berjuang.
Berjuang demi mereka, orang-orang yang menggiringku menikmati indahnya
jalan ini.
Saya akan bersungguh-sungguh !


Aaah, benar-benar merindukan masa kemarin, saat-saat perjuangan yang berbalut ukhuwah.
Saudari-saudariku, Sungguh aku mencintai kalian karena ALLAH.
Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang gugur dalam jalan indah ini.

Saudariku, akan selalu ada namamu dalam rabithaku :)

This picture from google

Selasa, 01 Mei 2012

Super Junior VS Nenek

Diposting oleh Rati Rahmawati di 13.23 0 komentar
14:36
30/04/12
All of this picture from google :)

Kemarin waktu menjenguk nenek di rumah sederhananya, saya  janji untuk menginap di rumah nenek malam ini. Yah, saya sering menginap di rumah nenek, biasanya bersama salah seorang sepupu yang juga teman dekatku. Selain kami berdua sebaya, kami juga dua tahun berturut-turut sekelas sewaktu SMA :D  asiiiik ya ? hehe

So, tadi saya sempatkan untuk menghubungi sepupuku kalau-kalau dia juga bisa ikut nginap lagi kali ini. Tapi sayang, dia tidak bisa karena harus menyaksikan konser “Super Junior” yang akan ditayangkan di salah satu stasiun TV swasta di negeri ini. Yaaaah, meskipun mungkin tayangannya tidak full seluruh konser, tapi dia tetap saja ingin menyaksikan konser yang selama ini dia tunggu-tunggu. Yup, sepupuku adalah salah satu penggemar setia boyband asal Korea ini. Sebenarnya, saya juga termasuk, tapi itu dulu. Dulu, sebelum saya mengenal duniaku saat ini :)

Sejak SMA, sepupuku sudah menyukai hal-hal yang berbau Korea. Mulai dari boyband and girlbandnya, drama, film, tempat-tempat indah di Korea bahkan dia punya beberapa iklan artis Korea. Mungkin karena saya selalu ada di dampingnya sejak SMA, maka saya juga jadi ikut menggemari hal-hal yang dia gemari tentang Korea. Tidak berniat sombong, hehe :D tapi sebelum Boyband/Girlband Korea meradang di Indonesia, kita sudah kena lebih dulu. Bahkan beberapa teman sekelas ketika itu merasa aneh dengan demam korea yang kami punya. Saya masih ingat kata-kata yang sering mereka lontarkan, “huuuuuuuuuuuuuuuuuuu, Korea-korea lagi”. Dan sekarang, saat “Korea-korea” itu lagi meradang di Indonesia, beberapa teman itu malah jadi penggemarnya. Hahahahahha, lucu ya..

Sebenarnya untuk menyembuhkan demam “Korea-korea” itu agak susah dan lama. Saya mulai dengan menyadari arti pentingnya jadi seorang penggemar. Dan setelah berpikir keras, ternyata lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya :) Maka saya putuskan untuk menjauh. Tapi meskipun saya menjauh, info seputar mereka tetap juga sampai di telingaku. Ya tentu saja lewat sepupuku yang sampai detik ini masih bersama saya dan satu lagi, adikku, yang juga sudah terjangkit. hehe

So, waktu sepupuku sampaikan alasannya tidak ikut nginap, sempat juga ada terbersit,” saya juga ahh, dgn alasan yang sama.” Hahahhahaha :D Tapi kemudian saya kembali meluruskan niat, janji adalah janji. Lagian akhir-akhir ini, saya menyadari satu hal. Apa yang masuk dalam diri kita, maka itu pula yang akan kita keluarkan. Beberapa minggu ini saya merubah beberapa kebiasaan seperti, ganti playlist dengan lagu-lagu Maher Zain dan baca buku ‘Melukis Pelangi”nya Oki Setiana Dewi. Hasilnya selalu ingin dekat dengan-NYA dan berjuang lebih :) Berbeda dengan kemarin-kemarin saat lagu-lagu yang didengarkan tidak mengarahkan pada-NYA atau mengisi hiburan hanya dengan menonton, hehe :D *jadimalu*. Yup, jika kita mengisi waktu dengan hal-hal yang bermanfaat maka yang bermanfaat pula yang akan kita tuangkan. Kan kan kan ? Karena itu, saya memutuskan untuk tetap nginap di rumah nenek.

Sebenarnya bisa sih menonton tayangan konser itu di rumah nenek, stasiun Tvnya juga ada kok siarannya di rumah nenek. Tapi sayangnya, nenek itu nontonnya sinetron (sinetron kesayangan di stasiun TV lain) dan tidak bisa diganggu gugat. Hahahahaha :D
Yaaaah, nenek. Meskipun selera tontonan kita berbeda, tapi tetap sayaaang kok :) nenek yang saya pilih :D

Kisah 'Kalajengking' dan 'Ular' dalam BUMI CINTA


Ibnu Qudamah dalam salah satu karyanya berjudul At Tawwabin, menuturkan sebuah kisah menarik tentang kasih sayang dan pertolongan Tuhan. Ibnu Qudamah menyitir kesaksian orang yang mengalami kejadian nyata yang menakjubkan. Orang itu bernama Yusuf Bin husain. Dia menuturkan kisahnya :

“Pernah suatu ketika aku bersama Dzun Nun Al Mishri berada di tepian sebuah anak sungai. Aku melihat seekor kalajengking besar di tempat itu. Tiba-tiba ada seekor katak muncul dipermukaan, dan kalajengking itu kemudian naik di atas punggungnya. Kemudian sang katak itu berenang menyebrangi sungai.

“Dzun Nun Al Mishri berkata, ‘Ada yang aneh dengan kalajengking itu, mari kita ikuti dia!’

“Maka kami lantas menyebrang mengikuti kalajengking yang digendong katak itu. Kami terperanjat ketika menjumpai seseorang tertidur di tepian sungai yang nampaknya habis mabuk. Dan di sampingnya ada seekor ular yang mulai menjalar dari pusar kemudian ke dadanya, kiranya ular tersebut hendak menggigit telinganya.

“Kami lalu menyaksikan kejadian yang luar biasa. Kalajengking itu tiba-tiba melompat secepat kilat ke tubuh ular itu dan menyengat ular itu sejadi-jadinya, hingga sang ular menggeliat-geliat dan terkoyak-koyak tubuhnya.

“Dzun Nun lalu membangunkan anak muda yang habis mabuk itu. Sesaat kemudian anak muda itu terjaga. Dzun Nun berkata, ‘ Hai anak muda, lihatlah betapa besar kasih sayang Allah yang telah menyelamatkanmu. Lihatlah kalajengking yang diutus-NYA untuk membinasakan ular yang hendak membunuhmu!’

“Lalu Dzun Nun melanjutkan nasihatnya, ‘Hai orang yang terlena, padahal Tuhan menjaga dari marabahaya yang merayap di kala gulita. Sungguh aneh, mata manusia mampu terlelap meninggalkan Tuhan Yang Kuasa, yang melimpahinya berbagai nikmat.’

“Setelah itu pemabuk itu berkata, ‘Duhai Tuhanku, betapa agung kasih sayang-Mu sekalipun terhadap diriku yang durhaka kepada-Mu. Jika demikian, bagaimana dengan kasih sayang-Mu kepada orang yang selalu taat kepada-Mu?’

“Pemuda pemabuk itu lallu meniti jalan menuju Allah. Ia sering kali menangis setiap kali teringat masa lalunya yang sia-sia. I a terus meniti jalan Allahyang lurus, jalan untuk orang-orang yang diberi nikmat sejati oleh Allah.”

Penjelasan Muhammad Ayyas (Tokoh Utama Novel BUMI CINTA) :

“Kisah kalajengking yang diutus oleh Allah sesungguhnya bisa terjadi pada siapa saja dan kapan saja. Termasuk pada diri kita. Mungkin kita tidak menyadari, Allah telah mengutus ‘kalajengking’ untuk menyelamatkan kita dari bahaya ‘ular’ yang hendak membinasakan kita.

“Kalajengking penyelamat itu bisa berbentuk hal yang bermacam-macam, dan ular yang hendak membinasakan kita juga bentuknya bermacam-macam. Bahaya itu bisa jadi misalnya berupa hutang yang menumpuk, yang sangat mengancam, yang siap membinasakan kita. Terkadang orang yang memiliki hutang menumpuk malah terlena dan sama sekali tidak sadar kalau ia sedang dililit oleh ular yang sangat besar. Persis seperti pemuda mabuk tadi. Atau ia sadar dililit ular besar dan pasrah sepenuhnya siap untuk binasa, sebab sudah tidak bisa berbuat apa-apa.

“Dalam kondisi kritis, berulang kali Allah menjaga hamba-Nya. Orang yang hutangnya menumpuk itu diberi jalan keluar oleh Allah. Berbagai macam caranya Allah mengirimkan ‘kalajengking’ penyelamat itu. Bisa jadi ada teman lama yang mendengar beritanya dan berkenan membantu menyelesaikan hutang-hutangnya. Bisa jadi Allah membukakan pintu bisnis yang baru. Yang dengan itu ia bangkit lagi, bisa melunasi hutangnya dan kembali hidup sentosa. Ada bermacam-macam sebab, tetapi pada intinya Allahlah yang mengatur semuanya.

“Cobalah sejenak kita inga-ingat sejarah perjalanan hidup kita. Berapa kali sudah Allah mengirimkan ‘kalajengking’ yang menyelamatkan hidup kita ? Berapa kali sudah Allah menolong kita dalam kesusahan dan kesempitan yang mendera ? kalau kita jujur, pastilah berkali-kali. Bahkan kalau kita jujur, setiap saat Allah melindungi kita dalam perlindungan yang tidak kita sadari.

“Kita tidak sadar bahwa setiap detik Allah membersihkan darah kita dari pelbagai jenis racun yang mematikan. Allahlah yang mengatur pembersihan darah itu dengan membuatkan pabrik yang memproduksi zat kimia alami untuk membersihkan darah. Pabri itu bekerja dua puluh empat jam tanpa henti. Dan kita samasekali tidka menyadarinya, atau kita malah ada yang tidak mengetahuinya. Tapi dunia medis telah menjelaskan semua.

“Di dalam tubuh kita, menurut keterangan ilmu medis, Allah telah membuat satu pabrik ajaib yang namanya hati. Hati bisa disebut organ terbesar dalam tubuh manusia dengan berat sekitar 1,5 kg. Fungsinya sangat banyak, bahkan mencapai lebih dari 500 fungsi yang bertalian erat dengan fungsi organ tubuh lainnya. Dengan fungsi yang begitu banyak dan rumit, hati ibarat pabrik kimia serba guna dan paling canggih yang diciptakan oleh Allah, dengan jumlah 300 miliar sel yang tidak bisa ditiru oleh teknologi manusia secanggih apa pun.

“Salah satu fungsi hati adalah menyaring dan mengolah darah. Dalam keadaan normal organ hati dilintasi sedikitnya 1400 cc darah setiap menitnya, atau hampir seperempat darah yang ada dalam tubuh melintasi hati setiap menit. Ini adalah cara tubuh untuk membersihkan darah. Hati menyaring darah yang melewatinya, lalu membersihkannya dari unsur-unsur yang mengotori darah. Jika hati menyaring 1,4 liter darah setia menitnya, berarti dalam waktu satu tahun hati telah menyaring lebih dari 525.000 liter darah.

“Tanpa hati, manusia tidak akan bisa bertahan hidup, bahkan akan mati terbunuh oleh pelbagai racun yang masuk ke dalam tubuh, termasuk obat-obatan kimia sintesis, seperti antibiotik yang diresepkan oleh dokter di mana-mana.

“Dan Allahlah yang menjaga kehidupan seseorang dengan menciptakan hati dan menjaganya terus bekerja. Allah terus menjaga kita siang malam, hanya saja kita yang sering lalai dan sama sekali tidak menyadarinya.

“Pertolongan dan kasih sayang Allah  di dunia ini tidak hanya untuk orang-orang yang taat saja. Orang yang bermaksiat sekalipun masih mendapat cipratan kasih sayang Allah. Contohnya adalah pemuda mabuk di atas. Dia tetap diselamatkan oleh Allah. Semestinya kasih sayang Allah yang sedemikian agungnya membuat siapapun insaf dan terjaga. Yang taat kepada Allah semakin taat. Karena ketaatan kepada Allah sendiri itu adalah bentuk kasih sayang Allah. Dan yang masih juga belum taat, masih suka bermasiat, sebaiknya segera insaf, bahwa ia masih hidup dan bisa bernafas di dunia ini karena dilindungi oleh Allah.”

“Hai orang-orang yang terlena, padahal Tuhan menjaga dari marabahaya yang merayap di kala gulita. Sungguh aneh, mata manusia mampu terlelap meninggalkan Tuhan Yang Kuasa, yang melimpahinya berbagai nikmat.” (Dzun Nun)

Sumber : Novel BUMI CINTA by. Ust Habiburahman El Shirazy



Sesalku :'(

5 April 2012
00:07am

Akhir-akhir ini saya agak sensitif dengan kata “kematian”. Saya mulai kembali tersadar akan kematian sejak Ayah dari dewi (junior sy di kampus) meninggal beberapa hari yang lalu. Saat takziah malam ketiga di rumah duka, dewi menceritakan bagaimana Ayahnya meninggal. Beliau meninggal dengan baik dan mempersiapkan diri seolah tahu akan segera meninggalkan dunia. Sebelum meninggal, beliau berusaha tidak menyusahkan keluarga sedikitpun dan menyelesaikan amanah-amanahnya baik dikantor maupun sebagai kepala keluarga. Saat dewi cerita, saya kembali teringat kematian kakek beberapa bulan yang lalu. Kakek meninggal karena sakit setelah dirawat tidak sampai sehari di Rumah Sakit. Saya sendiri yang menyaksikan ketika kakek menghembuskan nafas terakhirnya. Tapi sayangnya saya tidak berbuat banyak saat kakek sakit.

Waktu itu kakek sakit, sakitnya kakek seperti anak kecil yang lagi ngambek. Tidak mau makan, tidak mau bicara, tidak mau minum obat, bahkan bergerak atau bergeser tempat dudukpun enggan. Karena itu keluarga yang lain menduga kakek hanya sedang minta diperhatikan anak-anaknya. Dengan sikap kakek seperti itu, saya dan  gita (sepupu yang juga ikut menjaga kakek) pun ikut percaya. Dan ternyata, kakek memang sakit dan meninggal karena sakitnya itu. Saya menyesal, menyesal karena tidak berbuat lebih baik lagi bahkan berprasangka yang sama seperti keluarga yang lain ketika itu. Saya menyesal..

Keesokan harinya setelah saya mengenang kembali kakek di malam ketiga takziah Ayah dewi, saat membuka facebook ternyata hari itu adalah hari ulang tahun teman saya. Namanya Irbar, si jombe. Saya mengenalnya saat mengikuti bimbingan belajar STAN di Makassar. Anaknya rame, ramah, dan agak rakus. Karena itu saya selalu memanggilnya dengan sebutan jombe.

Saya pernah bertemu dengannya di salah satu bank di Palu, lengkap dengan seragam polisinya. Saya senang karena ternyata dia masih mengenal saya setelah beberapa tahun sejak bimbingan belajar di Makassar. Ternyata setelah bimbingan itu dia beralih menjadi seorang polisi, dan dipindah tugaskan di Palu. Pernah beberapa kali dia menghubungi saya, meminta tolong untuk dicarikan teman karena dia belum punya banyak teman di Palu. Bukannya tidak mau, saya hanya agak bingung harus cari di mana, teman seperti apa yang dia mau dan teman seperti apa yang saya punya. Dan sampai hari di mana saya tahu bahwa dia telah meninggal, saya belum menemukan teman buat dia.

Saya benar-benar SHOCK !!! Ternyata, dia adalah polisi korban tembak yang meninggal sewaktu melakukan tugas jaga di salah satu bank di Palu. Saya tidak menyangka. Saya tahu kejadian itu, tapi saya tidak tahu kalau ternyata irbarlah polisi yang menjadi korban. Karena saya berpikir dia bertugas di Bank yang berbeda saat pertama kali saya bertemu setelah dari Makassar. Dan lagi-lagi saya menyesal, karena tidak bisa memenuhi permintaannya sampai kepergiannya.

Apa yang saya lakukan selama ini ??? Saya tidak bisa berbuat baik pada orang-orang yang meninggalkan saya. Padahal jika saya bandingkan dengan beberapa kepergian orang disekitarku, sebelum mereka pergi, mereka bahkan menyelesaikan amanah mereka di dunia. Seperti ayah dewi, dan juga kisah tentang kepergian suami mbak Sofi yang di ceritakan kak Ugi. Bagaimana suami mbak Sofi mengajarkan mbak mengendarai motor sebelum dia benar-benar pergi, karena selama ini mbak selalu bersama suaminya kemanapun karena belum bisa mengendarai motor.

Saya jadi berpikir, bagaimana dengan saya ?? Apa saya bisa menyelesaikan amanah-amanahku di dunia sebelum pergi ? Apakah orang-orang disekitarku akan memenuhi permintaanku sebelum saya pergi ?? Atau mungkin sebaliknya, apakah saya bisa memenuhi permintaan orang disekitarku sebelum mereka pergi ??

Rabbi, hamba akan benar-benar berusaha kali ini. Maafkan hamba ya Rabb. Dan tolong biarkan penyesalan ini melekat dalam ingatan, agar tidak akan ada sesal yang sama dikemudian hari.

kakek, Irbar.. Maafkan saya.. Saya tahu, setiap isak tangis yang tercipta tidak akan dapat menghapus salah dan sesalku. Maafkan saya. Berharap tempat terindah untuk kalian di sisi-NYA..

Sekali lagi saya benar-benar belajar, dan pelajaran kali ini adalah Ketika kau berniat baik, maka LAKUKANlah !!! Dan penuhi permintaan orang disekitarmu selama itu baik. Sebelum kau menyesal karena tidak sempat memenuhi permintaannya atau mungkin mereka yang tak sempat menerimanya.


Irbar

Tangisku



Terisak dalam ketidak berdayaan menentang takdir.
Tapi apakah ini benar takdir ??
Hanya mendengar pun serasa hati tak sanggup.
Rabbi, izinkan hamba mengubah takdir ini dengan usaha, bkn dengan polesan harta seperti mereka.

28/11/11
11.04

Ukhuwah dalam Rabitha


20/4/2012
1;17am

Ditemani lagu-lagu Maher Zain mencari bahan lewat mbah google untuk kultum di liqo sabtu besok, sambil melihat foto-foto bersama para saudara yang baru diupdate kemarin.
Tak puas dengan mbah google, saya lanjutkan dengan menengok koleksi-koleksi buku yang mungkin saja bisa menambah bahan buat kultum. Dan tanpa sengaja melihat beberapa buku  yang menyadarkanku bahwa saudara-saudara seperjuanganku kemarin tidak lagi berada di tempat yang sama denganku.

Akhirnya, saya kembali merindukan masa-masa itu.
Ingin rasanya berproses seperti kemarin, ingin rasanya kembali merasakan
perjuangan kemarin.
Namun sedih bila melihat bahwa satu persatu dari kami mulai beranjak pergi, jauh bahkan ada pula yang jatuh.
Perlahan-lahan kami menjauh satu sama lain.

Bagaimana harus menghadapi ini ?
Bagaimana agar bisa melewati ujian ini dengan baik ?
Mungkin saya tahu jawabannya.
Tapi entah kenapa tak ada dorongan yang cukup untuk komitmen melaksanakannya.
Semoga ini bisa menjadi batu loncatan buatku.

Mulai dari diri sendiri.
Untuk mengikat ukhuwah dengan erat meski berjarak.
Untuk menyelamatkan diri dan saudara yang hampir terjatuh dan bergeser dari jalan ini.
Untuk memperkecil jarak dengan mereka, kami, satu sama lain.
Yaaah, saya harus berjuang.
Berjuang demi mereka, orang-orang yang menggiringku menikmati indahnya
jalan ini.
Saya akan bersungguh-sungguh !


Aaah, benar-benar merindukan masa kemarin, saat-saat perjuangan yang berbalut ukhuwah.
Saudari-saudariku, Sungguh aku mencintai kalian karena ALLAH.
Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang gugur dalam jalan indah ini.

Saudariku, akan selalu ada namamu dalam rabithaku :)

This picture from google

Super Junior VS Nenek

14:36
30/04/12
All of this picture from google :)

Kemarin waktu menjenguk nenek di rumah sederhananya, saya  janji untuk menginap di rumah nenek malam ini. Yah, saya sering menginap di rumah nenek, biasanya bersama salah seorang sepupu yang juga teman dekatku. Selain kami berdua sebaya, kami juga dua tahun berturut-turut sekelas sewaktu SMA :D  asiiiik ya ? hehe

So, tadi saya sempatkan untuk menghubungi sepupuku kalau-kalau dia juga bisa ikut nginap lagi kali ini. Tapi sayang, dia tidak bisa karena harus menyaksikan konser “Super Junior” yang akan ditayangkan di salah satu stasiun TV swasta di negeri ini. Yaaaah, meskipun mungkin tayangannya tidak full seluruh konser, tapi dia tetap saja ingin menyaksikan konser yang selama ini dia tunggu-tunggu. Yup, sepupuku adalah salah satu penggemar setia boyband asal Korea ini. Sebenarnya, saya juga termasuk, tapi itu dulu. Dulu, sebelum saya mengenal duniaku saat ini :)

Sejak SMA, sepupuku sudah menyukai hal-hal yang berbau Korea. Mulai dari boyband and girlbandnya, drama, film, tempat-tempat indah di Korea bahkan dia punya beberapa iklan artis Korea. Mungkin karena saya selalu ada di dampingnya sejak SMA, maka saya juga jadi ikut menggemari hal-hal yang dia gemari tentang Korea. Tidak berniat sombong, hehe :D tapi sebelum Boyband/Girlband Korea meradang di Indonesia, kita sudah kena lebih dulu. Bahkan beberapa teman sekelas ketika itu merasa aneh dengan demam korea yang kami punya. Saya masih ingat kata-kata yang sering mereka lontarkan, “huuuuuuuuuuuuuuuuuuu, Korea-korea lagi”. Dan sekarang, saat “Korea-korea” itu lagi meradang di Indonesia, beberapa teman itu malah jadi penggemarnya. Hahahahahha, lucu ya..

Sebenarnya untuk menyembuhkan demam “Korea-korea” itu agak susah dan lama. Saya mulai dengan menyadari arti pentingnya jadi seorang penggemar. Dan setelah berpikir keras, ternyata lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya :) Maka saya putuskan untuk menjauh. Tapi meskipun saya menjauh, info seputar mereka tetap juga sampai di telingaku. Ya tentu saja lewat sepupuku yang sampai detik ini masih bersama saya dan satu lagi, adikku, yang juga sudah terjangkit. hehe

So, waktu sepupuku sampaikan alasannya tidak ikut nginap, sempat juga ada terbersit,” saya juga ahh, dgn alasan yang sama.” Hahahhahaha :D Tapi kemudian saya kembali meluruskan niat, janji adalah janji. Lagian akhir-akhir ini, saya menyadari satu hal. Apa yang masuk dalam diri kita, maka itu pula yang akan kita keluarkan. Beberapa minggu ini saya merubah beberapa kebiasaan seperti, ganti playlist dengan lagu-lagu Maher Zain dan baca buku ‘Melukis Pelangi”nya Oki Setiana Dewi. Hasilnya selalu ingin dekat dengan-NYA dan berjuang lebih :) Berbeda dengan kemarin-kemarin saat lagu-lagu yang didengarkan tidak mengarahkan pada-NYA atau mengisi hiburan hanya dengan menonton, hehe :D *jadimalu*. Yup, jika kita mengisi waktu dengan hal-hal yang bermanfaat maka yang bermanfaat pula yang akan kita tuangkan. Kan kan kan ? Karena itu, saya memutuskan untuk tetap nginap di rumah nenek.

Sebenarnya bisa sih menonton tayangan konser itu di rumah nenek, stasiun Tvnya juga ada kok siarannya di rumah nenek. Tapi sayangnya, nenek itu nontonnya sinetron (sinetron kesayangan di stasiun TV lain) dan tidak bisa diganggu gugat. Hahahahaha :D
Yaaaah, nenek. Meskipun selera tontonan kita berbeda, tapi tetap sayaaang kok :) nenek yang saya pilih :D
 

Sang Rabitha Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei