Kamis, 17 Mei 2012

Sesalku :'(

Diposting oleh Rati Rahmawati di 11.10
5 April 2012
00:07am

Akhir-akhir ini saya agak sensitif dengan kata “kematian”. Saya mulai kembali tersadar akan kematian sejak Ayah dari dewi (junior sy di kampus) meninggal beberapa hari yang lalu. Saat takziah malam ketiga di rumah duka, dewi menceritakan bagaimana Ayahnya meninggal. Beliau meninggal dengan baik dan mempersiapkan diri seolah tahu akan segera meninggalkan dunia. Sebelum meninggal, beliau berusaha tidak menyusahkan keluarga sedikitpun dan menyelesaikan amanah-amanahnya baik dikantor maupun sebagai kepala keluarga. Saat dewi cerita, saya kembali teringat kematian kakek beberapa bulan yang lalu. Kakek meninggal karena sakit setelah dirawat tidak sampai sehari di Rumah Sakit. Saya sendiri yang menyaksikan ketika kakek menghembuskan nafas terakhirnya. Tapi sayangnya saya tidak berbuat banyak saat kakek sakit.

Waktu itu kakek sakit, sakitnya kakek seperti anak kecil yang lagi ngambek. Tidak mau makan, tidak mau bicara, tidak mau minum obat, bahkan bergerak atau bergeser tempat dudukpun enggan. Karena itu keluarga yang lain menduga kakek hanya sedang minta diperhatikan anak-anaknya. Dengan sikap kakek seperti itu, saya dan  gita (sepupu yang juga ikut menjaga kakek) pun ikut percaya. Dan ternyata, kakek memang sakit dan meninggal karena sakitnya itu. Saya menyesal, menyesal karena tidak berbuat lebih baik lagi bahkan berprasangka yang sama seperti keluarga yang lain ketika itu. Saya menyesal..

Keesokan harinya setelah saya mengenang kembali kakek di malam ketiga takziah Ayah dewi, saat membuka facebook ternyata hari itu adalah hari ulang tahun teman saya. Namanya Irbar, si jombe. Saya mengenalnya saat mengikuti bimbingan belajar STAN di Makassar. Anaknya rame, ramah, dan agak rakus. Karena itu saya selalu memanggilnya dengan sebutan jombe.

Saya pernah bertemu dengannya di salah satu bank di Palu, lengkap dengan seragam polisinya. Saya senang karena ternyata dia masih mengenal saya setelah beberapa tahun sejak bimbingan belajar di Makassar. Ternyata setelah bimbingan itu dia beralih menjadi seorang polisi, dan dipindah tugaskan di Palu. Pernah beberapa kali dia menghubungi saya, meminta tolong untuk dicarikan teman karena dia belum punya banyak teman di Palu. Bukannya tidak mau, saya hanya agak bingung harus cari di mana, teman seperti apa yang dia mau dan teman seperti apa yang saya punya. Dan sampai hari di mana saya tahu bahwa dia telah meninggal, saya belum menemukan teman buat dia.

Saya benar-benar SHOCK !!! Ternyata, dia adalah polisi korban tembak yang meninggal sewaktu melakukan tugas jaga di salah satu bank di Palu. Saya tidak menyangka. Saya tahu kejadian itu, tapi saya tidak tahu kalau ternyata irbarlah polisi yang menjadi korban. Karena saya berpikir dia bertugas di Bank yang berbeda saat pertama kali saya bertemu setelah dari Makassar. Dan lagi-lagi saya menyesal, karena tidak bisa memenuhi permintaannya sampai kepergiannya.

Apa yang saya lakukan selama ini ??? Saya tidak bisa berbuat baik pada orang-orang yang meninggalkan saya. Padahal jika saya bandingkan dengan beberapa kepergian orang disekitarku, sebelum mereka pergi, mereka bahkan menyelesaikan amanah mereka di dunia. Seperti ayah dewi, dan juga kisah tentang kepergian suami mbak Sofi yang di ceritakan kak Ugi. Bagaimana suami mbak Sofi mengajarkan mbak mengendarai motor sebelum dia benar-benar pergi, karena selama ini mbak selalu bersama suaminya kemanapun karena belum bisa mengendarai motor.

Saya jadi berpikir, bagaimana dengan saya ?? Apa saya bisa menyelesaikan amanah-amanahku di dunia sebelum pergi ? Apakah orang-orang disekitarku akan memenuhi permintaanku sebelum saya pergi ?? Atau mungkin sebaliknya, apakah saya bisa memenuhi permintaan orang disekitarku sebelum mereka pergi ??

Rabbi, hamba akan benar-benar berusaha kali ini. Maafkan hamba ya Rabb. Dan tolong biarkan penyesalan ini melekat dalam ingatan, agar tidak akan ada sesal yang sama dikemudian hari.

kakek, Irbar.. Maafkan saya.. Saya tahu, setiap isak tangis yang tercipta tidak akan dapat menghapus salah dan sesalku. Maafkan saya. Berharap tempat terindah untuk kalian di sisi-NYA..

Sekali lagi saya benar-benar belajar, dan pelajaran kali ini adalah Ketika kau berniat baik, maka LAKUKANlah !!! Dan penuhi permintaan orang disekitarmu selama itu baik. Sebelum kau menyesal karena tidak sempat memenuhi permintaannya atau mungkin mereka yang tak sempat menerimanya.


Irbar

0 komentar:

Posting Komentar

Sesalku :'(

5 April 2012
00:07am

Akhir-akhir ini saya agak sensitif dengan kata “kematian”. Saya mulai kembali tersadar akan kematian sejak Ayah dari dewi (junior sy di kampus) meninggal beberapa hari yang lalu. Saat takziah malam ketiga di rumah duka, dewi menceritakan bagaimana Ayahnya meninggal. Beliau meninggal dengan baik dan mempersiapkan diri seolah tahu akan segera meninggalkan dunia. Sebelum meninggal, beliau berusaha tidak menyusahkan keluarga sedikitpun dan menyelesaikan amanah-amanahnya baik dikantor maupun sebagai kepala keluarga. Saat dewi cerita, saya kembali teringat kematian kakek beberapa bulan yang lalu. Kakek meninggal karena sakit setelah dirawat tidak sampai sehari di Rumah Sakit. Saya sendiri yang menyaksikan ketika kakek menghembuskan nafas terakhirnya. Tapi sayangnya saya tidak berbuat banyak saat kakek sakit.

Waktu itu kakek sakit, sakitnya kakek seperti anak kecil yang lagi ngambek. Tidak mau makan, tidak mau bicara, tidak mau minum obat, bahkan bergerak atau bergeser tempat dudukpun enggan. Karena itu keluarga yang lain menduga kakek hanya sedang minta diperhatikan anak-anaknya. Dengan sikap kakek seperti itu, saya dan  gita (sepupu yang juga ikut menjaga kakek) pun ikut percaya. Dan ternyata, kakek memang sakit dan meninggal karena sakitnya itu. Saya menyesal, menyesal karena tidak berbuat lebih baik lagi bahkan berprasangka yang sama seperti keluarga yang lain ketika itu. Saya menyesal..

Keesokan harinya setelah saya mengenang kembali kakek di malam ketiga takziah Ayah dewi, saat membuka facebook ternyata hari itu adalah hari ulang tahun teman saya. Namanya Irbar, si jombe. Saya mengenalnya saat mengikuti bimbingan belajar STAN di Makassar. Anaknya rame, ramah, dan agak rakus. Karena itu saya selalu memanggilnya dengan sebutan jombe.

Saya pernah bertemu dengannya di salah satu bank di Palu, lengkap dengan seragam polisinya. Saya senang karena ternyata dia masih mengenal saya setelah beberapa tahun sejak bimbingan belajar di Makassar. Ternyata setelah bimbingan itu dia beralih menjadi seorang polisi, dan dipindah tugaskan di Palu. Pernah beberapa kali dia menghubungi saya, meminta tolong untuk dicarikan teman karena dia belum punya banyak teman di Palu. Bukannya tidak mau, saya hanya agak bingung harus cari di mana, teman seperti apa yang dia mau dan teman seperti apa yang saya punya. Dan sampai hari di mana saya tahu bahwa dia telah meninggal, saya belum menemukan teman buat dia.

Saya benar-benar SHOCK !!! Ternyata, dia adalah polisi korban tembak yang meninggal sewaktu melakukan tugas jaga di salah satu bank di Palu. Saya tidak menyangka. Saya tahu kejadian itu, tapi saya tidak tahu kalau ternyata irbarlah polisi yang menjadi korban. Karena saya berpikir dia bertugas di Bank yang berbeda saat pertama kali saya bertemu setelah dari Makassar. Dan lagi-lagi saya menyesal, karena tidak bisa memenuhi permintaannya sampai kepergiannya.

Apa yang saya lakukan selama ini ??? Saya tidak bisa berbuat baik pada orang-orang yang meninggalkan saya. Padahal jika saya bandingkan dengan beberapa kepergian orang disekitarku, sebelum mereka pergi, mereka bahkan menyelesaikan amanah mereka di dunia. Seperti ayah dewi, dan juga kisah tentang kepergian suami mbak Sofi yang di ceritakan kak Ugi. Bagaimana suami mbak Sofi mengajarkan mbak mengendarai motor sebelum dia benar-benar pergi, karena selama ini mbak selalu bersama suaminya kemanapun karena belum bisa mengendarai motor.

Saya jadi berpikir, bagaimana dengan saya ?? Apa saya bisa menyelesaikan amanah-amanahku di dunia sebelum pergi ? Apakah orang-orang disekitarku akan memenuhi permintaanku sebelum saya pergi ?? Atau mungkin sebaliknya, apakah saya bisa memenuhi permintaan orang disekitarku sebelum mereka pergi ??

Rabbi, hamba akan benar-benar berusaha kali ini. Maafkan hamba ya Rabb. Dan tolong biarkan penyesalan ini melekat dalam ingatan, agar tidak akan ada sesal yang sama dikemudian hari.

kakek, Irbar.. Maafkan saya.. Saya tahu, setiap isak tangis yang tercipta tidak akan dapat menghapus salah dan sesalku. Maafkan saya. Berharap tempat terindah untuk kalian di sisi-NYA..

Sekali lagi saya benar-benar belajar, dan pelajaran kali ini adalah Ketika kau berniat baik, maka LAKUKANlah !!! Dan penuhi permintaan orang disekitarmu selama itu baik. Sebelum kau menyesal karena tidak sempat memenuhi permintaannya atau mungkin mereka yang tak sempat menerimanya.


Irbar

0 komentar:

Posting Komentar

 

Sang Rabitha Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei