Aku & Lukaku

Kalau bicara tentang "luka", sepertinya saya sering terluka. Mungkin karena saya cukup peka sedari kecil, maka hal-hal kecil itu sudah cukup membuat luka. Hanya saja, saya menyadarinya setelah dewasa, bahwa ternyata ada loh luka yang tidak terlihat. Luka yang tidak harus ada darahnya baru dikatakan luka. Luka yang tidak selalu harus tergores di fisik.


Saat kecil, saya dikenal sebagai anak yang suka ngambek untuk hal-hal kecil bagi mereka. Misalnya, saya dicandai oleh seorang teman untuk sesuatu yang saya tidak lakukan, saya tidak suka, saya bisa menangis karena hal ini. Suatu waktu, tante kesayangan saya bertanya saat saya curhat, "memangnya sakit kah itu kalau dicandai? Kenapa harus menangis?", lalu saya menjawab bahwa yang sakit itu hatiku, kenapa saya harus dicandai dengan sesuatu yang tidak saya lakukan? Oke hal itu tidak menimbulkan luka di fisik, tapi hatiku sakit. Kurang lebih seperti itu jawabanku saat usia SD kelas awal. Meskipun berkata seperti itu, saya belum menyadari tentang luka.

Dan ternyata, setelah belajar agama saya menemukan satu fakta dari Rosulullah shallallahu alaihi wasallam, bahwa tidak boleh ada kebohongan bahkan dalam bercanda. See ? Pantas saja saya sakit hati kan. Bagi orang lain mungkin itu hal sepele yang bisa dicuekkin, tapi tidak bagiku.

Di usia SMP, saya bisa dengan peka menyadari ketidaknyamanan tanteku pada ponakanku yang sangat aktif. Saya bisa menangis memohon pada kakakku untuk segera pulang bersama anaknya, agar saya tidak tersiksa oleh sikap-sikap tante yang menunjukkan ketidaknyamannya. Sejak usia ini, saya sudah dipercaya untuk menyimpan rahasia dari kakak-kakak dan sepupu-sepupuku. Mungkin bukan sekedar karena saya bisa menjaga rahasia, tapi ada bagian dari diriku yang merasa ikut terluka saat mereka terluka. Apakah karena peka itu ?

Saat ini, saya menyadari betapa luka-luka itu membentuk karakter dan mempengaruhi pilihan-pilihanku. Ada luka yang ternyata tidak saya sadari tapi sangat mempengaruhi emosiku saat ke-trigger. Ada juga luka yang sudah saya sadari, tapi masih terasa sakitnya pun yang Allah sembuhkan pun ada.

Alhamdulillah, saya berada pada titik membenci perbuatannya, bukan orangnya. Maka meski lukanya masih terasa sakit, saya tetap bisa berinteraksi dengan baik pada orang yang menorehkannya selama dia tidak melakukan perbuatan yang sama.

Salah satu tujuanku menulis pun adalah untuk mencari luka-luka terselubung yang belum terdeteksi. Minimal tahu dulu kan ya, terima dulu lukanya, iya saya sakit hati dan sedang terluka. Saya akan hidup dengan memeluk diriku dan merawat luka-lukaku. Memohon agar Allah menyembuhkannya dengan hikmah yang berlimpah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Canvas Passion to Project Passion

Luka, kala itu..

Tantangan 30 Hari | Day 10