Jumat, 21 September 2012

Cinta Mama, Cinta ALLAH

Diposting oleh Rati Rahmawati di 21.41
02:10am
26/04/12

Hari ini, saya diperlihatkan lagi untuk kesekian kalinya betapa Maha Besar dan Kuasanya Sang Rabbi.

Saya menyadarinya lewat proses kelahiran anak ketiga dari salah seorang kenalan yang sudah saya anggap seperti saudara sendiri, Mbak Yeni. Saat itu saya menerima sms mbak sekitar pukul 01.00am tanggal 25 April, mbak meminta saya untuk ke rumahnya besok pagi-pagi karena malam tadi dokter mengatakan mbak sudah masuk pembukaan satu dan akan segera melahirkan. Saya juga kurang mengerti dengan pembukaan satu yang mbak maksud, yang dalam pikiran saya mbak akan segera melahirkan. Hanya itu ! Alhasil malam itu saya tidak bisa tidur dengan nyenyak karena kepikiran dengan calon adek bayi yang akan lahir.

Esoknya, sekitar pukul 06.00am saya berangkat ke rumah mbak bersama dengan salah satu teman dekat saya yang juga dekat dengan keluarga mbak. Karena jalanan yang sepi, kami berdua bisa sampai ke rumah mbak lebih cepat dari biasanya. Sesampainya di sana, ternyata mbak sudah berangkat sejak subuh tadi bersama suaminya ke Rumah Bersalin yang sudah ditentukan sebelumnya. Ingin rasanya segera menyusul mbak, tapi amanah yang diberikan mbak bukan itu. Saya harus stand by di rumah mbak menemani anak-anak dan ibu mbak yang menanti dengan cemas proses persalinan.

Seharian di rumah mbak, kami hanya bisa menerima kabar dari suami mbak yang pulang sesekali. Dan tak ada satupun kabar yang menunjukkan bayinya akan segera lahir. Setiap kali di tanya yang dijawab hanyalah pembukaan-pembukaan dalam proses menjelang persalinan yang dilewati mbak. Belakangan saya tahu bahwa memang proses pembukaan itu bisa berlangsung 24-48 jam. Sementara mbak, lewat sms beliau mengatakan beliau masih terus berjuang dan menitip doa agar masih diberi kesabaran dan kekuatan. Rabbi, sontak saya terkejut membaca sms mbak. Tidak biasanya mbak seperti ini. Mbak yang kuat, tegar, berani, selalu bisa diandalkan, kenapa jadi melemah seperti ini ?? Saya jadi teringat perkataan sepupuku yang baru melahirkan bayi cantiknya beberapa hari lalu, “Seandainya yang akan saya lahirkan bukanlah anakku, saya mungkin sudah menyerah karena rasa sakit ketika itu.” Rabbi, seperti inikah beratnya melahirkan ? Dan hari itu, dalam tiap sujud dan akhir sholatku selalu ada nama mbak citra dan calon bayinya, dengan harapan terbaik buat mereka.

Pukul 1 lebih dini hari di hari selanjutnya tanggal 26 April, saya terbangun karena mimpi yang aneh, belum sempat kembali pulas, saya menerima sms dari suami mbak yang mengatakan mbak akan dioperasi karena posisi bayinya yang jauh dari mulut rahim. Astagfirullah, kaget dan ketakutan yang melanda saat itu masih terekam jelas dalam ingatanku. Segera saja saya mengambil wudhu untuk memohon pada Sang Pencipta Penguasa langit dan bumi agar membantu proses persalinan mbak. Dan alhamdulillah, sebelum sholat saya menerima sms lagi dari suami mbak bahwa bayi perempuan baru saja lahir dan mbak batal operasi. Alhamdulillah, senang yang tak terhingga mengantarkanku untuk bertemu Sang Rabbi dalam sholat malamku saat itu.

Subhanallah. Rabbi, apa seperti ini beratnya beban yang harus ditanggung oleh seorang ibu ? Berjam-jam menanti melewati proses menjelang persalinan dengan rasa sakit yang menyertai. Dan ini hanyalah proses menjelang persalinan, bagaimana dengan mengandung kemarin atau bahkan proses persalinan yang berlangsung ?

Rabbi, maka pantaslah Engkau melarang kami untuk tidak berkata “ah” sekalipun kepada ibu kami. Saya jadi berpikir bagaimana dengan mama saat melahirkan saya dan saudara-saudaraku ? Dalam hati saya berjanji, esok hari ketika berjumpa mentari saya akan memohon maaf pada mama atas semua salah yang sama sekali tidak pantas mama terima selama ini (hiks) :'(

Rabbi, mengandung dan melahirkan merupakan proses berat yang membahagiakan bagi para wanita. Betapa besar kuasa-Mu yang mengaturnya sedemikian rupa dan memilih kami kaum wanita untuk amanah ini. Segala puji bagi-Mu Wahai Rabbi yang Maha Adil. Yang tentu saja memberikan balasan atas tugas mulia seorang ibu.

Lantas bagaimana dengan saya ? Apa yang bisa saya berikan sebagai balasan atas semua kesabaran dan kebaikan yang saya terima dari mama sejak dalam kandungan ? Saya berpikir, seluruh duniapun saya berikan untuk mama takkan cukup untuk membalas semua yang sudah mama berikan. Maka tak ada jalan lain, balasan yang harus saya berikan atas pengorbanan mama adalah dengan menjadi anak sholehah. Ya! saya harus menjadi anak yang sholehah, untuk membangun istana buat mama di surga-MU Ya rabbi. Maka tunjukanlah jalan yang lurus Rabbi, untuk menggapai mimpi buat mama :)

0 komentar:

Posting Komentar

Cinta Mama, Cinta ALLAH

02:10am
26/04/12

Hari ini, saya diperlihatkan lagi untuk kesekian kalinya betapa Maha Besar dan Kuasanya Sang Rabbi.

Saya menyadarinya lewat proses kelahiran anak ketiga dari salah seorang kenalan yang sudah saya anggap seperti saudara sendiri, Mbak Yeni. Saat itu saya menerima sms mbak sekitar pukul 01.00am tanggal 25 April, mbak meminta saya untuk ke rumahnya besok pagi-pagi karena malam tadi dokter mengatakan mbak sudah masuk pembukaan satu dan akan segera melahirkan. Saya juga kurang mengerti dengan pembukaan satu yang mbak maksud, yang dalam pikiran saya mbak akan segera melahirkan. Hanya itu ! Alhasil malam itu saya tidak bisa tidur dengan nyenyak karena kepikiran dengan calon adek bayi yang akan lahir.

Esoknya, sekitar pukul 06.00am saya berangkat ke rumah mbak bersama dengan salah satu teman dekat saya yang juga dekat dengan keluarga mbak. Karena jalanan yang sepi, kami berdua bisa sampai ke rumah mbak lebih cepat dari biasanya. Sesampainya di sana, ternyata mbak sudah berangkat sejak subuh tadi bersama suaminya ke Rumah Bersalin yang sudah ditentukan sebelumnya. Ingin rasanya segera menyusul mbak, tapi amanah yang diberikan mbak bukan itu. Saya harus stand by di rumah mbak menemani anak-anak dan ibu mbak yang menanti dengan cemas proses persalinan.

Seharian di rumah mbak, kami hanya bisa menerima kabar dari suami mbak yang pulang sesekali. Dan tak ada satupun kabar yang menunjukkan bayinya akan segera lahir. Setiap kali di tanya yang dijawab hanyalah pembukaan-pembukaan dalam proses menjelang persalinan yang dilewati mbak. Belakangan saya tahu bahwa memang proses pembukaan itu bisa berlangsung 24-48 jam. Sementara mbak, lewat sms beliau mengatakan beliau masih terus berjuang dan menitip doa agar masih diberi kesabaran dan kekuatan. Rabbi, sontak saya terkejut membaca sms mbak. Tidak biasanya mbak seperti ini. Mbak yang kuat, tegar, berani, selalu bisa diandalkan, kenapa jadi melemah seperti ini ?? Saya jadi teringat perkataan sepupuku yang baru melahirkan bayi cantiknya beberapa hari lalu, “Seandainya yang akan saya lahirkan bukanlah anakku, saya mungkin sudah menyerah karena rasa sakit ketika itu.” Rabbi, seperti inikah beratnya melahirkan ? Dan hari itu, dalam tiap sujud dan akhir sholatku selalu ada nama mbak citra dan calon bayinya, dengan harapan terbaik buat mereka.

Pukul 1 lebih dini hari di hari selanjutnya tanggal 26 April, saya terbangun karena mimpi yang aneh, belum sempat kembali pulas, saya menerima sms dari suami mbak yang mengatakan mbak akan dioperasi karena posisi bayinya yang jauh dari mulut rahim. Astagfirullah, kaget dan ketakutan yang melanda saat itu masih terekam jelas dalam ingatanku. Segera saja saya mengambil wudhu untuk memohon pada Sang Pencipta Penguasa langit dan bumi agar membantu proses persalinan mbak. Dan alhamdulillah, sebelum sholat saya menerima sms lagi dari suami mbak bahwa bayi perempuan baru saja lahir dan mbak batal operasi. Alhamdulillah, senang yang tak terhingga mengantarkanku untuk bertemu Sang Rabbi dalam sholat malamku saat itu.

Subhanallah. Rabbi, apa seperti ini beratnya beban yang harus ditanggung oleh seorang ibu ? Berjam-jam menanti melewati proses menjelang persalinan dengan rasa sakit yang menyertai. Dan ini hanyalah proses menjelang persalinan, bagaimana dengan mengandung kemarin atau bahkan proses persalinan yang berlangsung ?

Rabbi, maka pantaslah Engkau melarang kami untuk tidak berkata “ah” sekalipun kepada ibu kami. Saya jadi berpikir bagaimana dengan mama saat melahirkan saya dan saudara-saudaraku ? Dalam hati saya berjanji, esok hari ketika berjumpa mentari saya akan memohon maaf pada mama atas semua salah yang sama sekali tidak pantas mama terima selama ini (hiks) :'(

Rabbi, mengandung dan melahirkan merupakan proses berat yang membahagiakan bagi para wanita. Betapa besar kuasa-Mu yang mengaturnya sedemikian rupa dan memilih kami kaum wanita untuk amanah ini. Segala puji bagi-Mu Wahai Rabbi yang Maha Adil. Yang tentu saja memberikan balasan atas tugas mulia seorang ibu.

Lantas bagaimana dengan saya ? Apa yang bisa saya berikan sebagai balasan atas semua kesabaran dan kebaikan yang saya terima dari mama sejak dalam kandungan ? Saya berpikir, seluruh duniapun saya berikan untuk mama takkan cukup untuk membalas semua yang sudah mama berikan. Maka tak ada jalan lain, balasan yang harus saya berikan atas pengorbanan mama adalah dengan menjadi anak sholehah. Ya! saya harus menjadi anak yang sholehah, untuk membangun istana buat mama di surga-MU Ya rabbi. Maka tunjukanlah jalan yang lurus Rabbi, untuk menggapai mimpi buat mama :)

0 komentar:

Posting Komentar

 

Sang Rabitha Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei