Langsung ke konten utama
Belajar Istiqomah
28 Oktober 2012
01:01am
Istiqomah itu berat ya ? Tadi
bahkan saya sempat berpikir, seandainya iman seseorang itu seperti PLURK (salah
satu layanan jejaring sosial yang memberi nilai yang disebut karma bagi
keaktifan penggunanya) yang kondisinya bisa dilihat dari Karma dan digambarkan
pada sebuah grafik , pastilah saya akan sangat malu melihat karma ataupun
grafiknya. Bagaimana tidak dengan kondisi iman yang naik turun. Astagfirullah..
Saya sempat merasa iri melihat
status-status FB atau twitter beberapa orang teman, yang saya anggap status-status
mereka pun istiqomah. Seperti kata “Raditya Dika”, salah satu cara untuk
menilai seseorang itu dari Timeline twitternya. Yaaaah, saya sependapat. Meskipun
mungkin memang tidak sepenuhnya benar jika menilai hanya dari status/TL
jejaring sosial. Karena meskipun tidak mewakili seluruh kondisi hidup, hati,
keimanan atau apalah yang cocok sebutannya, tapi lewat status/TL itulah bisa
dilihat apa seseorang itu bisa istiqomah memberi kebaikan atau bahkan
sebaliknya, mengumbar keluh, galau, dll.
Tidak berniat mengumbar aib atau
menyanjung berlebihan, hanya saja ada beberapa pelajaran yang saya ambil
tentang istiqomah dari orang-orang disekitarku. Berharap bisa sama-sama memetik
hikmah.
Saya pernah merasa kecewa pada
seorang senior yang saya anggap hanif karena begitu menginspirasi dalam
mempertahankan hijab dan menjaga diri sebagai seorang muslimah. Tapi sayang,
beberapa lama tidak bertemu saya terkejut melihat status beliau di beranda FB
yang bermesraan dengan seorang ikhwan. Karena takut berprasangka buruk, saya
mengkonfirmasi hal tersebut pada seorang teman dan ternyata si muslimah
tersebut memang menjalin hubungan dengan seorang ikhwan. Astagfirullah.. Begitu
dasyatnya godaan syetan hingga seorang muslimah yang saya kenal begitu teguh
dan sholehah bisa jatuh juga. Bagaimana dengan saya yang baru membenahi diri
dan dengan kondisi iman yang naik turun
? Karena hal itu, saya jadi sadar bahwa istiqomah benar-benar amat sangat berat
sekali. Bahkan untuk mempertahankan satu kebaikanpun, harus berjuang melawan
ribuan godaan terlebih dahulu.
Cerita lainnya tentang seorang
anak yang saya kenal beberapa tahun yang lalu. Dia sedikit berbeda dari
teman-teman seusianya, mungkin karena semangatnya untuk mencari kebenaranlah
yang membuat dia terlihat hanif dimataku. Karena melihat kehanifannya,
saya menjulukinya ‘ustad kecil’.
Meskipun demikian, tetap saja dia adalah anak muda dengan dunianya. Iyah, si
Ustad Kecil masih pacaran ketika itu. Tapi dengan semangatnya, saya yakin suatu
saat dia akan mengerti dan paham.
Tak terasa setahun lebih waktu
yang terlewati sejak saat-saat itu. Meskipun sekarang tidak bertemu ataupun
mendengar banyak tentang dia, tapi lewat status jejaring sosialnya saya sadar
bahwa dugaanku benar. Semangatnya mencari kebenaran masih bisa saya rasakan,
kehanifannya makin terlihat. Semakin hari, semakin banyak kebenaran yang di
postingnya. Bahkan beberapa kali saya sempat tertegun dan manggut-manggut
dibuatnya. Bahkan sekarang pacaranpun diilegalkannya. Hahaha :D anak ini benar-benar
membuat saya iri dan terus bertanya,”Bagaimana dengan saya?”, “Apa saya juga
lebih baik dari kemarin, atau malah sebaliknya ?”.
Ingin rasanya melihat karma
imanku dari tahun ke tahun. Membandingkan kondisi iman dari tahun ke tahun,
bulan, bahkan hari. Bagaimana saya yang kemarin dengan saya yang hari ini ?
Tapi ternyata saya melupakan satu
hal penting. Karma seseorang dalam plurk bisa dilihat oleh orang lain.
Bayangkan bagaimana jika kondisi iman kita seperti karma dan memiliki grafik,
kemudian dilihat oleh orang banyak. Entah apa yang akan terjadi. Saya mulai
senyam senyum sendiri membayangkan beberapa hal yang bisa saja terjadi.
ALLAH benar-benar Maha Baik,
selalu menyembunyikan aib kita dan memberikan apa-apa yang kita butuhkan, bukan
semata-mata yang kita inginkan. Dalam kasus kali ini, mungkin muhasabahlah
jawaban yang tepat sebagai pengganti karma untuk melihat kondisi iman kita.
Muhasabah diri dengan merendahkan dan melembutkan hati.
Sekedar berbagi, salah satu hal
yang saya pahami berdasarkan pengalaman. Jika kita bisa menjaga dan memfilter
dengan baik apa-apa yang akan masuk ke diri kita, insya ALLAH kita bisa
mempertahankan kebaikan dan kebenaran dalam diri kita. Mengutip salah satu
tausiah dari Ustad kondang di negeri ini, bahwa hidup itu bagaikan sebuah teko.
Ketika teko tersebut diisi dengan kopi, maka kopi pula yang akan keluar jika isi teko
dituang. Jika hal-hal baik yang kita lihat, dengar, baca, dan berbagai hal yang
masuk ke diri kita, maka hal-hal baik pula yang akan keluar sebagai tindakan/perilaku kita.
Saya berharap bisa selalu
istiqomah, baik itu dalam mengisi teko kehidupan, menjalankan ibadah, dan
segala kebaikan dan kebenaran yang pernah ataupun akan saya dapatkan. Karena
kedepannya siapa yang tahu selain DIA ? Maka pantaslah jika kita bersiap siaga
agar tidak berakhir buruk. Begitupun bagi si muslimah, berharap engkau kembali
menjadi peneguh langkah bagi saudara-saudaramu dan si Ustad Kecil, berharap
engkau bisa selalu istiqomah hingga kelak menjadi Ustad Besar :) aamiin
Jika terdapat kesalahan atau
kekhilafan dalam tulisan ini, saya mohon sahabat pembaca bisa berbesar hati
memaafkan. Karena saya hanyalah manusia dengan kondisi yang tidak sempurna,
tempat berteduhnya salah. Kesempurnaan hanyalah milik ALLAH.
Wallahu a’lam bishawab
Komentar
Posting Komentar