Aku & Tumpukan Luka
Ada satu hal memalukan yang belakangan mulai kusadari saat berinteraksi online di grup-grup WhatsApp yang kupunya. Ke-AKU-anku yang beberapa kali kutuliskan dan membuatkanku menyesalinya beberapa menit setelah pesan terkirim. Misal saat aku memperkenalkan bahwa salah satu tema yang dipuji itu berasal dari ideku. Mungkin masih menggunakan kalimat yang biasa saja bagi sebagian orang, tapi menurutku aku harus lebih bijak tanpa perlu mengakuinya. Setelah mengikuti sesi zoom healing di kelas Writing Healing Journey, aku mulai menyadari bahwa hal yang tidak bisa ku kontrol ini berasal dari tumpukan luka serupa sejak kecil sampai saat ini. Iya, ada Rati kecil yang selalu berusaha menjadi juara di kelasnya untuk mendapatkan pengakuan dari ibunya sebagai guru di sekolah tersebut. Tapi pengakuan itu tidak didapatkannya, justru amarah atau sindiran-sindiran sarkas karena merasa dipermalukan saat dia mendapatkan juara 2. Ada juga Rati diusia SMP yang untuk pertama kalinya keluar dari zona kesepian...